CAHAYAKU UNTUK KEGELAPANMU
Oleh : Yuli Saxifrage
Langit yang bersedih enggan membuka sinar purnama. Hamparan bintang seakan menangis membasahi marcapada. Waktu berjalan seperti kura-kura. Basahnya pucuk hijau dedaunan sudah tak sabar menunggu datangnya pagi merekah.
Laksana patung Revan memandangi langit dikejauhan yang meneteskan gerimis. Suasana alam telah melukiskan suasana hatinya yang berselimutkan kesedihan yang sulit untuk di lukiskan. Berharap akan ada mesin waktu untuk ia dapat mengulang masa bahagianya. Matanya pun sulit terpejam walau untuk sedetik saja.
Ia memandangi selaksa bintang diluar kamarnya yang seperti tengah meneteskan air mata. Ingin rasanya ia melukiskan isi hatinya dalam udara yang terasa hampa. Lalu di ambilnya secarik kertas, jari-jemarinya pun mulai menggoreskan kata-kata.
“ Wahai malam…
Adakah hatimu untuk mengerti hatiku??
Adakah rasa didirimu, untuk pahami rasaku ini??
Mampukah kau putar balik sang waktu yang terus meninggalkan kita?
Wahai bintang..
Bisikkan padaku kidung – kidung mesramu
Tukku dapat merasakan cinta yang orang lain rasakan
Haruskahku bertahan dalam kehampaan?”
“ Van, kamu belum tidur?” Tanya ibunya. “Kenapa,Van ? Kamu tumben jam segini belum tidur.”
“Eh, ibu” Jawab Revan yang kaget karna terlena oleh tulisannya. “ Iya.Bu sebentar lagi saya akan tidur”
“ Ya sudah, tidur sana , besok kan kamu harus bangun pagi”.
***
Pagi itu langit begitu cerah merekah. Sinar mentari yang bersinar hangatkan setiap insan yang memandangnya. Seperti pagi – pagi biasanya Revan bangun lalu memulai aktivitasnya. Ia di sibukkan oleh berbagai kegiatan yang menjenuhkan diri dan pikirannya.
“Bu, Revan pergi dulu,ya” pamitnya pada ibu Nia yang sedang sibuk di dapur. Ibu Nia adalah ibu yang telah mengangkatnya menjadi anak. Sewaktu kecil Revan telah di tinggal oleh kedua orang tuanya karna kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya. Ibu Nialah yang telah menemukan Revan di malam yang hujan ketika kecelakaan terjadi. Saat itu usianya sekitar dua tahun, lalu dengan kasih sayang dirawatnya anak itu hingga sekarang. Kebetulan ibu Nia tidak mempunyai seorang anak untuk di asuh dan suaminya telah meninggal, maka ia pun mengasuh anak itu seperti anaknya sendiri. Ia sengaja merahasiakan hal ini dari Revan, menunggu anak itu dewasa dan dapat menerima kenyatan hidupnya.
“Kamu sudah mau pergi kuliah,Van?” Tanya ibunya sambil meninggalkan pekerjaannya di dapur “ Kenapa pagi sekali, gak biasanya kamu pergi sepagi ini?”
“Iya,Bu. Lagi pengen aja, biar lebih santai berangkatnya jadi gak buru-buru. Lagi pula nanti ada ujian, kan kalau datang pagi bisa belajar dulu.” Jawabnya sambil tertawa kecil.
“Owh, ya sudah kamu hati-hati di jalan”
“Oke, deh.”Jawabnya singkat.
Suara kendaraan yang sesekali melintas seperti menemani langkahnya menyusuri jalan dekat rumahnya yang selalu ia lewati jika akan pergi kuliah. Hari itu ia berangkat pagi, jarang sekali ia berangkat sepagi itu, jadi ia tidak pernah tahu keadaan jalan sekitar rumahnya di pagi hari.
Langkahnya pun terhenti, pandangannya tertuju kearah taman nan indah. Dari kejauhan ia melihat seorang wanita cantik tengah duduk disitu sambil memegang setangkai bunga. Ingin ia menyapanya namun niatnya itu di pendam karna ia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya. Revan pun melanjutkan jalannya dan naik bis menuju kampusnya. kecantikan gadis itu ternyata telah menghantui pikirannya.
“Hai Van, tumben lo dateng pagi, biasanya juga siang itupun pake acara ngaret dulu” Tanya Nicky sambil meledek.
“Iya donk,Ky. Masa mau ngaret ampe lulus.” Jawab Revan “ky, mana temen-temen yang lainnya, koq belum kelihatan batang hidungnya sama sekali?”
“Gak tahu, sebentar lagi mungkin. Tunggu aja dulu”
“Hai semua, lagi pada ngapain, nih?” Sapa Rico sambil menepuk bahu Revan.
“Lagi nunggu lo pada semua.”Jawab nicky
“Nah tuh, si Viny udah dateng”
“Ehm.. pasti lagi nunggu gue kan ?” Sapa Viny, gadis centil yang selalu membuat lelucon.
“Kan udah pada dateng semua nih, mending langsung ke kelas yuk?”Ajak Revan sambil menghentikan teman-temannya yang menertawakan lelucon Viny.
Siang harinya, selesai kuliah Revan masih memikirkan gadis yang di taman itu. Ia berharap bisa melihatnya lagi. Gadis itu seperti angin yang selalu mengelilinginya.
“Van, kenapa lo bengong doang?” Tanya Rico “Gak biasanya lo pendiem. Tadi juga tumben lo dateng pagi, biasanya ngaret”
“Lo keserupan setan apa,Van? Setan gunung kidul apa laut gede?” Sambung Viny sambil melucu.
“Sebenernya gak ada apa-apa sih, gue Cuma mau dateng pagi aja. Tapi yang bikin gue aneh, pas gue mau berangkat gak di sangka-sangka gue ketemu gadis cantik banget di taman. Selama ini gue belum pernah ketemu dia, gak seperti gadis-gadis yang biasa gue lihat di daerah rumah gue” Jawab Revan menjelaskan kepada teman-temannya.
“Hehehe. Ada-ada aja lo,Van. Dia sering mungkin duduk di taman itu, tapi lo-nya aja yang gak pernah lewat situ pagi-pagi.” Kata Nicky seolah meledek. “Coba deh, besok lo dateng pagi lagi, siapa tahu nanti ketemu lagi.”
“Makanya kalo ke kampus tuh jangan ngaret terus, sekali-kali tepat waktu” Sambung Viny membenarkan ucapan temannya,Nicky.
“Gak tau deh, gue jadi kepikiran cewe itu terus” Kata Revan yang masih memikirkan gadis cantik itu.
“Ya sudahlah, gak usah di bahas lagi” Jawab Rico yang sudah mulai bosan. “Udah sore nih, mending kita cabut yuk?”
Sore harinya ketika Revan pulang ke rumah, ia kembali melewati taman itu berharap bisa melihat gadis itu kembali. Semakin dekat, langkahnya semakin pasti. Dipercepatnya langkahnya karna ia sudah tidak sabar ingin melihat gadis itu kembali. Memandang kecantikannya, melihat senyumnya yang menyejukkan. Semakin dekat taman itu semakin cepat langkahnya. Jantungnya pun berdetak cepat dan sulit untuk ia kendalikan.
Setelah tiba di taman itu dipandanginya sekeliling taman. Diperhatikannya setiap orang yang hilir mudik, matanya tertuju ke semua tempat. Namun, sepertinya hanya kesia-siaan yang akan ia dapatkan. Gadis itu tidak ada di taman. Hatinya pun mulai resah menanti kedatanggan insan yang telah merebut hati dan pikirannya. Menjelang malam tidak ditemukannya tanda-tanda kedatangan gadis itu. Iapun memutuskan untuk pulang, dalam hatinya berharap esok pagi ia akan bertemu kembali.
Tidak hanya di kampus, dirumah sikap Revan pun sama. Ia menjadi pendiam. Rupanya gadis misterius itu sungguh telah merasuki hati dan pikirannya. Setiap waktu dan setiap apapun yang ia lakukan selalu teringat akan senyum pelangi di taman itu.
“Van, kamu lagi ada masalah? Tanya ibunya yang khawatir akan siakp Revan yang berubah. “Ibu lihat dari kamu pulang kuliah kamu melamun terus. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”
“Gak ada apa-apa,Bu.”Jawab Revan pada ibunya. “Bu, di daerah rumah kita ada orang baru ya?
“Kayanya gak ada tuh,Van.” Jawab ibu sambil meminum tehnya yang terhidang di ruang keluarga. “Memang kenapa? Baru sehari pergi pagi pertanyaan kamu aneh”
“Masa sih?” Sahut Revan yang kurang percaya. “Tadi pagi waktu saya mau berangkat ke kampus, saya melihat ada gadis cantik duduk di taman sambil memegang bunga. Biasanya kalau berangkat ke kampus Revan tidak pernah melihat dia. Paling Cuma orang-orang biasa.”
Ibunya hanya tersenyum kecil. Ia menyadari bahwa yang membuat anaknya itu berubah adalah karna seorang gadis cantik. Walaupun Revan tidak lahir dari rahimnya namun baginya Revan telah lahir dari lubuk hatinya yang terdalam. Oleh karena itu ia tahu bahwa anak yang ia temukan sembilan belas tahun silam telah jatuh cinta pada seorang gadis. Namun, seperti ada sesuatu yang menjanggal di hati ibunya. Entah sesuatu apa itu.
“Owh, gadis itu toh. Dia memang biasa setiap pagi duduk di taman” Jawab ibunya menjelaskan. “Rumahnya tidak jauh dari taman itu. Kalau tidak hujan ia selalu duduk di taman itu sambil memegang setangkai bunga. Jika sudah siang ia akan pulang kerumahnya. Dia memang gadis cantik,Van. Ibu saja belum pernah melihat gadis secantik dia. Kecantikannya melebihi permata marcapada. Tapi… ”
“Tapi apa, Bu? Tanya Revan sesegera mungkin saat ibu Nia menghentikan perkataannya.
“Tapi.. Dia gadis.. buta, Van.”
Mendengar perkataan ibunya, bagai mendengar guntur yang maha dahsyat suaranya. Ia hanya terdiam. Ia tidak percaya sebelum melihat yang sesungguhnya.
Malam telah hadir menutup cahaya mentari dan menghadirkan gemerlap bintang di langit. Revan kembali merasa waktu berjalan seperti kura-kura. Bahkan lebih lama. Ia tidak sabar untuk menyambut datangnya pagi merekah Untuk dapat melihat gadis itu kembali. Diambilnya secarik kertas, dan di goreskannya kata-kata indah di atasnya.
Waktu seakan terhenti…
Saat mata ini tak memandang indah senyummu..
Namun detak jantungku..
Sulit ku ukur betapa kencangnya berdetak..
Saat ku ingin melihatmu..
Malam yang dingin telah tiba..
Menghilangkan hangatnya mentari
Hatiku sunguh tak sabar untuk esok yang kan datang
Ku ingin memandang senyum pelangi di taman
Wahai sang waktu…
Berlarilah sekencang mungkin!!!
Kalahkan langkah singa berlari
Hadirkanlah pagi untukku
Hadirkan mentari cerah untukku
Hadirkan dia pula untukku
Hanya untukku!!!
***
Semenjak ia bertemu gadis itu Revan selalu bersemangat untuk ke kampus pagi hari. Hanya sekedar ingin melihat gadis yang telah merebut jiwanya.. Setiap hari Revan berangkat pagi melewati taman itu. Setiap pagi pula ia memandangi senyum seindah pelangi di gadis itu dengan setangkai bunga yang menemani gadis itu.
Suatu hari ia memberanikan diri intuk mendekati Shina, nama gadis itu. Ternyata apa yang dikatakan oleh ibunya benar, bahwa gadis itu buta. Namun kekurangan Shina tak memudarkan perasaan sayangnya. Citanya pada Shina tidak bertepuk sebelah tangan. Shina sangat menyayangi Revan dengan tulus
Tidak terasa mereka telah berpacaran selama tiga tahun. Banyak hal yang mereka lalui bersama. Namun kedekatan keduanya membuat ibu Nia merasa gundah gulana. Sesungguhnya ia tidak menyetujui hubungan mereka. Apakah karna Shina buta? Atau karna hal lain? Entahlah yang terpenting adalah kedua insan yang saling tulus mencinta. Revan berharap akan bisa memiliki Shina, gadis yang telah memberi arti di hidupnya dan mengubah hidupnya.
“Lo yakin,Van mau nikahin tuh cewe?” Tanya Nicky. “Bukannya gue mau merendahkan dia, tapi lo tau kan dia buta, jangan sampai nantinya lo nyesel menikah sama cewe buta”
“Bener,Van apa yang di bilang Nicky. Rico menyetujui perkataan temannya. “Pernikahan adalah masalah seumur hidup. Yang akan lo nikahin adalah-maaf ya,Van-cewe buta. Dia emang cantik tapi kedepannya apa lo udah siap untuk direpotkan sama keadaannya yang seperti itu?”
“Gue udah yakin, Ky sama keputusan gue dan gue juga udah siap, Ric dengan apapun yang akan terjadi” Jawab Revan dengan yakin. “Gue sayang sama Shina gak pernah melihat kekurangan fisiknya. Tapi gue tulus menerima dia apa adanya.”
“OK.” Viny mulai angkat bicara dengan gaya sok dewasanya. “Kalau itu memang sudah jadi keputusan lo, kita sebagai teman akan mendukung sepenuhnya. Gimana Nic, Co?Lo pada setuju juga kan ?”
Seberkas senyuman mulai menghiasi wajah mereka.
“Thanks ya. Lo semua emang sahabat-sahabat terbaik gue.”
***
Malam hari yang indah bertahtakan di langit sejuta bintang. Malam itu akan menjadi malam terindah bagi insan-insan yang saling mencinta dengan tulus. Langit seakan tersenyum bermandikan kilau cahaya. Kedua insan yang saling mencinta bertemu di tengah indahnya taman. Revan berniat untuk mengatakan pada Shina bahwa ia akan menikahinya.
“Gak,Van.” Jawab Shina kaget dengan ucapan Revan. “Aku gak bisa menikahi kamu. Aku buta. Aku adalah gadis buta sejak lahir. Seperti apa marcapada ini pun aku tak tahu. Duniaku gelap,Van. Mana mungkin kita dapat bersatu?!”
“Tapi,Shin.” Revan seolah tidak percaya dengan penolakan Shina. “Aku yakin dengan keputusanku. Aku akan menerima kamu apa adanya. Tidak peduli duniamu gelap sekalipun. Aku berjanji, aku bersedia menjadi terangmu”
“Kenapa kamu terus memaksaku?”
“Karena aku tulus mencintai kamu. Apa adanya, Shin.”
“Tapi aku gadis buta”
“Aku tidak peduli dengan kekuranganmu. Aku ingin menikahimu”
“Baik. Kalau kamu terus memaksa, aku akan katakan bahwa aku akan menikahi kamu jika aku bisa melihat. Bagaimana?!”
Revan terdiam. Setelah ia mengantarkan Shina pulang ke rumahnya ia kembali pulang. Ia menceritakan segalanya pada ibunya termasuk niatnya untuk menikahi Shina. Ibunya tidak percaya dengan apa yang dikatakan anaknya itu. Ia seperti disambar petir di siang bolong.
“Bu? Kenapa Ibu gak setuju?” Tanya Revan memaksa. “Apa karna ia buta?”
“Bukan,Van. Bukan demikuan” Jawab ibunya. “Ibu bukannya tidak setuju, tapi ada hal yang harus kamu ketahui”
“Apa itu,Bu?”
“Ini masalah dua puluh dua tahun silam,Van.”
“Apa ada hubungannya dengan aku dan Shina?”
“Ya, tentu. Sepertinya sudah waktunya Ibu mengatakan semuanya padamu. Tapi berjanjilah kau tidak akan marah pada ibu.”
“Apa itu,Bu. Katakanlah.” Revan berkata dengan penasarannya.
“Ini adalah cerita 23 tahun silam saat kau belum ada. Waktu itu ibu melahirkan seorang bayi perempuan. Dia sangat cantik namun dia cacat. Karna cacatnya itu ayahmu menolaknya, ia malu mempunyai anak buta. Ia menyuruh ibu untuk membuangnya jauh-jauh. Ibu mana yang tega membuang bayinya, namun ayahmu mengancam jika tidak di buang, Ibu akan di bunuhnya.” Dengan meneteskan air mata ia melanjutkan ceritanya.
“Kemudian, Ibu memberikan bayi itu pada orang lain yang kebetulan tidak mempunyai anak. Ibu berharap orang itu dapat mengasuhnya sampai dewasa.” Ibu Nia mengusap air mata yang menetes di pipinya.
“Apa bayi itu Shina,Bu?”
Ibu itu hanya terdiam dan meneteskan air mata karena teringat akan masa lalunya.
“Jawab,Bu! Pinta Revan dengan memaksa pada ibunya. “Apa Shina anak ibu?!”
“Van…” Dipandanginya anak yang sangat dicintainya itu. “Yaa..”
“Jadi…. Shina adalah adikku,Bu? Tanya Revan yang hampir meneteskan air mata dan ingin menyalahkan nasib. “Benarkah ini,Bu? Kenapa tidak dari dulu ibu katakan? Kenapa baru sekarang,Bu? KENAPA,Bu?”
“Maafkan ibu, nak.”
Sesaat suasana hening menyelimuti mereka.
“Dan ada satu hal lagi,Van yang kamu harus ketahui.” Ibunya berkata dengan lirih. “Karna sudah saatnya kebenarn ini kamu tahu.”
“Katakanlah!”
“Kamu dan Shina bukanlah saudara kandung” Suara ibu semakin lirih terdengar.
“Tidak mungkin… Apa maksudnya? Jelaskan,Bu.”
“Dua puluh dua tahun yang lalu terjadi sebuah kecelakan di malam yang hujan dan gelap. Kedua penumpang dalam mobil itu tewas seketika. Namun, ada seorang bayi berusia dua tahun yang selamat dari kecelakaan itu.” Kembali Ibu Nia meneteskan airmatanya. “Van.. Bayi itu adalah kamu..”
Revan semakin sulit berkata, lidahnya seperti hilang membuat ia tak mampu berkata. Tidak mudah baginya menerima kenyataan yang pahit ini, namun inilah kenyataan yang harus ia terima.
“Ibu menemukan kamu dan merawat kamu seperti anak ibu sendiri.” Ibunya melanjutkan ceritanya. “Ibu berfikir, mungkin dengan hadirnya kamu, duka ibu karna kehilangan bayi perempuannya dan suami ibu dapat terhapus. Dan memang benar, kehadiranmu setelah kematian ayahmu telah telah memberi cahaya di hati ibu.”
Revan merasa berhutang budi pada ibu yang selama ini merawat dan mencintainya sepenuh hati. Seharusnya Shinalah yang mendapatkan kasih sayang itu. Bukan dirinya.
“Shina tidak bersedia menikahiku,Bu”
“Mengapa? Tanya ibu kaget. “Apa yang ia katakana?”
“Ia akan menikahiku jika ia bisa melihat”
Malam terasa panjang. Revan sulit untuk memejamkan kedua matanya. Dirinya terus berfikir dan berfikir apa yang harus ia lakukan. Hatinya pun berkata. Aku sangat mencintai ibuku, ia telah menerimaku sebagai anaknya.. Aku telah berhutang budi yang sangat besar padanya. Haruskahku melepas Shina? Walau ku mencintainya? Yang seharusnya dimiliki oleh ibu. Tapi, perasaan ku tak dapat berbohong, ku sangat mencintai Shina, ku ingin memilikinya.
“Mengapa kamu belum tidur,Van?” Suara ibu menyadarkan lamunan anaknya.
“Bu, ada yang ingin saya sampaikan.”
“Katakanlah”
“Aku sangat mencintai Shina dan aku ingin menikahinya,Bu. Revan mencoba berkata dengan yakin. “Maafkan aku. Mungkin ibu berfikir aku egois dan tak tahu berterima kasih. Tapi, aku sungguh tulus,Bu. Apa ibu setuju?”
Ibunya hanya terdiam begitu juga Revan. Suasana menjadi hening. Hanyalah detak jarum jam yang terdengar. Sesaat terasa angin berhembus pelan dan terasa dingin. Revan mulai cemas, mungkin ibu tidak akan menyetujuinya. Ataukah?
“Tentu ibu setuju,Nak”
Seberkas tersenyum terpancar dari wajah mereka. Kantukpun melai mereka rasakan.
“Terima kasih,Bu”
“Lekaslah tidur. Malam sudah larut”
***
Keesokkan paginya saat Revan melintas depan taman, tempat Shina menikmati paginya bersama bunga, ia tidak melihat senyum pelangi itu. Hatinya pun bertanya-tanya. Tapi di singkirkannya pikiran negatifnya itu. Ia berfikir mungkin bidadarinya itu masih tertidur pulas. Ia pun segera melanjutkan perjalanannya.
Siang harinya Ibu Nia menyuruh Rina, orang yang membantu Shina sehari-hari karna Shina tak dapat melihat, untuk membawa Shina kerumahnya. Setibanya di rumah ibu Nia, dipeluknya Shina seerat mungkin seakan tak ingin berpisah. Ibu Nia pun menjelaskan tujuannya untuk menyuruh mereka datang kerumahnya. Diceritakannya semuanya tentang kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Betapa bahagianya Shina mengetahui bahwa ia masih mempunyai ibu, terlebih seorang pria yang mencintainya. Tiba-tiba datanglah seorang pria menemui Shina memberitahukan bahwa ada orang yang bersedia untuk mendonorkan matanya saat ini juga. Betapa bahagianya tidak bertambah, keinginannya selama ini untuk dapat melihat akan tercapai.
Pria itupun segera mengantarkan Shina beserta Rina dan ibu Nia ke rumah sakit. Mata yang akan di donorkanpun telah tersedia. Tinggal menunggu waktu operasi.
“Dok, siapa orang yang telah bersedia mendonorkan matanya untuk anak saya?” Tanya ibu Nia
“Maaf,Bu. Tapi beliau melarang siapapun untuk memberitahu siapa dia. Beliau berkata, suatu saat nanti ibu akan tahu.”
Sesaat lagi operasi akan dilakukan. Namun Revan belum muncul-muncul juga padahal ia mengetahui tentang operasi ini. Seluruh temannya dan ibunya menunggu dengan cemas. Dokter tidak dapat menunggu lama lagi. Operasi harus segera dilakukan. Saat operasi berlangsungpun Revan tidak muncul-muncul. Ibunya mulai cemas, begitu juga teman-temannya.
Setelah menunggu lama operasipun selesai dengan baik. Malam harinya perban di mata Shina dapat dibuka. Namun ia menolak untuk membuka sebelum Revan ada. Semua orang menunggu diluar kamar dengan tidak sabar. Sedikitpun tidak ada tanda-tanda kedatangan Revan.
Tiba-tiba datanglah seorang perawat dengan seorang pria yang telah mendonorkan matanya. Semua orang tercengang melihatnya. Tak ada seorang pun yang mampu berkat-kata. Didampangi suster, semua orang masuk keruangan untuk membuka perban di mata Shina. Perban harus di buka secepatnya sebelum pagi. Akhirnya Shina setuju untuk membuka perban itu. Perlahan tetapi pasti, suster membuka perban di mata Shina.
“Aku sudah bisa melihat.” Shina teriak dengan bahagianya. “Anda pasti ibuku. Iya kan ? Aku bisa melihat,Bu.”
“Iya,nak kamu bisa melihat”
“Kenapa ibu menangis? Dimana Revan?”
Semua orang terdiam. Tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Suasana menjadi hening. Shina pun merasa bingung ada beberapa orang, yang manakah Revan.
“Aku disini, Shin” Tiba-tiba terdengar suara yang memecahkan keheningan. “Aku Revan”
“Benarkah dia Revan,Bu? Shina bertanya seakan tidak percaya.
“Ya, dia Revan.” Jawab ibu lirih. “Dia adalah lelaki yang mencintaimu. Ini adalah teman-teman Revan. Rico,Nicky dan Viny.”
“Sungguhkah kamu buta,Van?” Tanya Shina
“Ya, aku memang buta, tapi aku sangat mencintaimu. Menikahlah denganku,Shin”
“Dulu, aku memang berkata akan menikahimu jika aku dapat melihat dan sekarang aku sungguh dapat melihat. Namun maafkanlah aku,Van..”
“Apa maksudmu?” Revan memotong perkataan Shina. “Apa karna aku buta?”
“Ya. Karna kau buta aku tak dapat menerimamu. Maafkan .. aku.. Bencilah aku jika itu inginmu “
“Baiklah, jika itu telah menjadi keputusanmu. Aku akan pergi jauh-jauh dari kehidupan kalian. Karna kini kau telah bertemu dengan ibu kandungmu, tak ada lagi yang dapat memisahkan kalian. Termasuk aku.” Suara Revan semakin lirih.
Sebelum Revan meninggalkan ruangan itu, setelah ia mencapai dekat pintu berkatalah ia dengan nada penuh cinta. “Ibu, terima kasih untuk segala yang telah engkau berikan. Hanya inilah yang dapat kubalas walaupun tak sebanding dengan kasih sayang yang engkau berikan. Shina, hanya satu pesanku padamu. Jagalah kedua mataku sebaik mungkin. Selamat tinggal.”
Mendengar perkataan itu, Shina menangis dan penyesalan kini hadir di hatinya. Namun ia sudah terlambat. Revan telah pergi. Seluruh ruangan di selimuti kesedihan . Kedua wanita itu, Shina dan ibunya, berpelukan mencoba menahan tangis yang mengalir bagai derasnya aliran sungai.
Revan pun meninggalkan mereka dengan di tuntun seorang suster. Tidak ada lagi baginya suatu penyesalan Ia telah mengambil keputusan yang tepat dengan memberikan matanya pada wanita yang ia cintai dan dengan itu ia sedikit dapat membalas budi kebaikan ibu Nia. Walau bagaimanapun dan kemanapun ia pergi ia tetap mencintai kedua wanita yang telah memberi arti di hidupnya, ibu terkasih dan Shina.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar