Seperti biasa pagi ini kumulai dengan saat teduh dan doa. Seperti biasa juga setelah itu ku sempatkan untuk berdiam diri sejenak, melihat kedepan meja belajarku, dan mengganti tanggalan menjadi tanggal 081111. Setelah tertera 08 November, aku menggantungnya lagi. Mata ini pun terus melihat angka delapan yg menarik perhatianku. "delapan?" hatiku berkata demikian, "Tuhan... apa yg akan terjadi sepanjang hr ini???", sebuah pertanyaan melintas di kepalaku.
Aku pun gk mau ambil pusing dgn hal sepele seperti itu. Aku segera bersiap2 ke kampus. Seperti hari2 sebelumnya, berangkat tapi tidak di anter, aku ke terminal, naik bus dan menuju kampus. Tapi taukah kawan, apa yg membuat berbeda dari hari2 sebelumnya? Ya, sebuah pelajaran kehidupan yg sederhana ku dapat hr ni.
Pelajaran apakah itu??? pastinya belum tentu kita dapat di bangku sekolah atau bangku kuliah.
Pada saat aku di dalam bis, mata ini pun berkeliaran melihat ke luar, ku lihat hiruk-pikuk manusia ibu kota yg akan pergi kerja, kuliah, atau sekolah, tapi ada satu hal yg menarik mata ini utk memandang. Yaa, itu adalah barisan pepohonan yg rindang dan tinggi. Ada pelajaran sederhana ttg kehidupan yg aku ambil dr pohon tersebut. Pohon itu memang besar dan rindang, tapi taukah teman2 bahwa di rindangnya pohon itu ternyata pohon itu tengahnya sudah di tebang. Entah siapa yg menebang akupun tidak tahu. Yg jadi pertanyaan ku mengapa pohon yg telah ditebang tersebut masih tetap bisa tumbuh?
Ternyata, dari pinggir bekas tebangan pohon tersebut tumbuh batang2 dan dedaunan yg menjulang keatas. Dari bekas tebangannya memang sudah tidak ada lagi kehidupan, tapi pohon ini tidak mau menyerah sampai disitu, ia mencari cara lain, mencari celah lain untuk tetap bertahan hidup dan memberi kesejukan kepada MANUSIA yg sudah menebangnya sekalipun. Celah itu adalah di sekeliling bekas tebangan.
Mataku tidak hanya melihat bekas pohon yg ditebang tapi juga melihat pohon yg tidak ditebang. Bis yg kutumpangi masih terus berlalu meninggalkan pohon demi pohon. Semakin banyak pohon yg ku lihat, semakin aku tahu apa perbedaannya antara yg ditebang dan tidak. Pohon yg di tebang, ia memang meninggalkan bekas di tengahnya, tapi taukah teman bahwa bekas itulah yg membuat itu tampak berbeda dan lebih indah di banding pohon yg tidak ditebang, ketika di kelilingi oleh batang2 baru sebagai kehidupannya yg baru. Sedanglan pohon yg tidak ditebang, ia hanya pohon biasa yg terus dan terus menjulang tinggi. tanpa pernah merasakan sakit, tanpa pernah merasakan perjuangan yg berarti.
Apa yg akan aku sampaikan adalah belajarlah dari pohon yg ditebang tersebut. Dalam kehidupan pasti kita pernah merasakan sakitnya "ditebang", tapi jangan pernah berhenti sampai disitu. Seperti pohon, ia mencari celah lain untuk tetap bisa bertahan bahkan menjadi yg lebih baik dibanding ketika di tebang. Ketika kita mengalami kegagalan, jgn lah berhenti sampai disitu tetaplah berusaha dan cobalah cara lain. Jika kita ibaratkan manusia adl penguasa pohon ini, Tidak mungkin pohon ini di tebang hingga ke akar, karna ia merasa bahwa pohon ini berarti baginya. Sama seperti Tuhan, yg adalah penguasa kita, tidak mungkin Ia "menebang" kita hingga ke "akar2nya", apalagi Ia adalah Kasih, pasti kita berharga di mataNya. Ia pasti akan membiarkan kita tetap bertahan dan merawat kita, walau terkadang kita seperti pohon yg harus "ditebang". Tuhan mengijinkan kita "ditebang" utk bisa menghasilkan kehidupan yg baru. Tuhan menginjinkan kita diterpa angin utk bisa kuat di dlm Dia. Seperti pohon, yg terus tinggal tetap di tanah, kita pun harus tinggal tetap dlm Tuhan Yesus... :-)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Cerita Kita di Batu, Malang, dan Bromo
Di blog gw kali ini, gw ingin cerita tentang perjalanan gw dan temen-temen ke Malang. Sebenernya banyak tempat wisata lain yang udah pernah ...
-
Share to Others adalah tema yg diangkat dalam Temu Bina Pelayan (TBP) kali ini. Tepatnya pada Kamis, 15 Desember 2011. TBP kali ini agak ber...
-
Ingin ku tahu... Tapi ku enggan bertanya Karna ku takut Jawabmu kan menyakitkanku...
-
Pagi itu hujan deras tiada henti menutup mentari tuk memancarkan sinarnya. Begitu dingin yg kurasa hingga menusuk tulang. Setelah semalam ku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar