Rabu, 05 Februari 2014

My Family, My Small Group


First, let’s sing
Kita bertumbuh, bertumbuh didalam kasih. Sehati, sepikir, setujuan melangkah bersama. Tuaian besar t’lah menanti dihadapan kita. Siapkanlah dirimu songsong hari esok. Dan Tuhan dimuliakan melalui KK

                Sungguh suatu anugrah luar biasa ku dapat mengenal kalian,  


 
lia, 


 nita, 


evi, 


ida, 


grace, 

meri, 


nindi, 


vero 

sebagai AKK ku yg setia dan mau berjuang untuk sama-sama dibina dalam KK. Menjadi PKK dari 8 orang akk bukanlah hal yg mudah. Begitu besar tanggung jawab yg Allah anugrahkan kepadaku. Hanya karna kasih dan anugrah Allahah ku dapat menjalaninya.



Begitu banyak suka dan duka yg telah kita lalui bersama. Begitu banyak hal yg kita bagikan bersama.  Baik itu waktu, tenaga, pikiran bahkan materi. Menjadi suatu keluarga yg saling terbuka dan saling mendukung dalam KK adalah suatu anugrah yg kita dapat saat berkuliah maupun setelahnya. Oleh karena itu ku tak ingin menyia-nyiakan anugarah ini. Tidak semua orang dapat memilikinya dan tidak semua orang mengerti akan indahnya KK. 


 
Sungguh ku sangat berharap dan berdoa janganlah kiranya sia-sia setiap benih firman yg telah ditabur. Sehingga kita, aku dan kamu dapat menjadi saksi Kristus dimanapun Ia tempatkan kita.
Walau terkadang air mata menetes, tetaplah kita setia sampai akhir dan jgn pernah tinggalkan keluarga kita ini seperti Kristus yg tidak pernah meninggalkan kita. 

Walau terkadang rasa malas menyerang, setialah untuk terus membangun hubungan yg intim denan Sang Pemilik KK itu sendiri yaitu Kristus Yesus.

Walau terkadang kesibukan tiada pernah berhenti untuk datang, biarlah Roh kebijaksanaan ada apada kita untuk kita terus mau berjuang bersekutu dalam KK.

Walau terkadang permasalahan silih berganti, percayalah kita selalu ada untuk kita dan Tuhan PASTI juga ada untuk kita.

Buatlah dunia melihat, bahwa kitalah saksi2 Kristus yg hidup untukNya. Dalam setiap aspek hidup kita dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan nyatakan Kristus ada pada diri kita dan pada KK kita. 


My family, my small group. Forever for God, forever for us and for the world.

Selamat Malam


Mentari meninggalkan timur tuk kembali pada barat

Hilangkan sinarnya sementara untuk kita pandang

Hadirnya bintang di langit hiaskan mimpimu

Biarlah hangatnya bulan menyelimutimu dalam dinginnya malam

Missing Something


Missing something. 
But i don’t know what it is. May be it’s you, maybe it is my past. 
The thing that saved in the deepest of my heart. I really want to see it but how could i get it if i don’t know what it is. So missing it. Wind flows softly as if i remember something. 
What is it? Once again I say that I do not know it. 

Sometimes,
I think i’m falling in love but i do not know to whom i falled my love.. It’s seems that my world told me to smile for love.. 

Please do not leave me to play this melody alone, it’s just like wanting me to lead this life alone.

Everything ends when ones dies and only the scent remains.

Bandung, April 2013


Hari baru.
Di pagi hari saat mentari bersemangat menyinari kota lautan api
Hamparan sawah menghijau menghiasi mata-mata insan yg memandang
Pemandangan nan menawan di suguhkan dengan bebas
Pegunungan memanjang menemani perjalanan sang insan
Bapa paruh baya bersepeda bersama anaknya yg masih kecil
Seorang ibu berteduh dari sinar mentari pagi
di bawah payung yg di gantung disepedanya,
gunung-gunung tinggi menjulang seakan tersenyum ramah kepada hati-hati yg nelangsa
perbukitan pun tak mau kalah menyapa insan-insan yg gundah
tak sebanding dengan batu permata kecantikannya
bak wanita yg dilukiskan cantik oleh pelukisnya, kau alam menunjukkan keelokanmu

Namun...
Apa yg insan dapat setelah melewati perjalanan tanpa hambatan itu???
Tak sama
Berbeda
Tak ada hamparan kehijauan
Tak ada tak ada wanita dalam sunyinya
Yg ada hanya keramaian
Yg ada hanya kesibukan insan-insan kapitalis
Lihat saja, bangunan buatan manusia dapat menutup gunung buatan Tuhan
Akhh, inilah kota Bandung
April, 2013

Hanya Ingin Bertemu


Diiringi mentari yang kian tenggelam. Bis melaju dengan cepat. Masing-masing menikmati kesibukannya sendiri. Walaupun ada hiburan film, tapi ada saja orang yg tidak menikmatinya dan memilih tidur. Ada pula yang asyik dengan obrolannya, gosip, atau cerita-ceita diantara anak muda.
Kira-kira pukul lima sore, cahaya mentari  yang kian meredup seakan menandai semangat kami yg juga sudah tinggal sedikit. Tidak heran, soalnya dari pagi kami disibukkan dengan kunjungan-kunjungan PKL atau Praktek Kerja Lapangan ke berbagai tempat, yang katanya sihh sesuai dengan  latar belakang keilmuan kami (sastra Inggris).
Perjalanan hari ini pun belum selesai sampai dikunjungan-kunjungan tersebut, masih berlanjut hingga nanti malam dengan tujuan kota Bandung. Yaa Bandung,  kota besar yg menjadi tujuan perjalanan kami.
Kepala ini pun merebah ke senderan bangku tempat ku duduk di bis. Di sebelah kiriku cahaya mentari begitu setia menemani perjalanan ini, seakan mengawasi bis yg kami tumpangi. Tidak hanya itu, pohon-pohon berbaris untuk datang dan lalu dari penglihatanku. Sesekali ku melihat indahnya bunga-bunga di pinggir tol Cikampek, berwarna kuning seakan memberi gairah kepada setiap mobil yg lalu lalang. Terkadang mata ini menoleh ke kanan, yg ada hanyalah deretan mobil-mobil yg sedang melintas. Canda tawa dari beberapa temanku menghiasi suasana yg jarang kami rasakan jika di kampus.
Apa yg sedang aku pikirkan bukanlah tentang bagaimana perjalanan ini nantinya. Tapi jauh di lubuk hatiku kuingin bisa bertemu dia , sahabatku, yg tinggal di Bandung. Aku sangat merindukannya. Semenjak kami lulus SMP, kami jarang sekali bertemu, bisa dikatakan hampir tidak pernah. Kurang lebih lima tahun kami tidak pernah bertemu. Rasa rindu yg menyelimuti relung jiwaku ini seakan sudah tak mampu terbendung lagi. Ingin rasanya segera bertemu dia dan curhat segala isi hatiku kepadanya. Ku ingin cerita apa saja yg aku alami selama kurang lebih lima tahun ini. Mencurahkan segala perasaanku pada sahabatku ini, menumpahkan segala air mata ku di pundaknya dan melihat senyumnya yg menenangkan hati.
Perjalanan masih berlanjut, film pun telah usai, dilanjutkan dengan musik-musik  anak muda, yaaa katanya sih asyik untuk didengarkan. Tapi buatku tetap saja, menikmati pemandangan di luar kaca bis dan memikirkan akan bertemu seorang sahabat yg sudah lama tidak ketemu adalah hal yg paling mengasyikkan dibanding menonton film atau mendengar musik.
Sahabatku itu, Riska namanya, adalah sahabat terbaik yg pernah aku miliki sewaktu SMP dulu. Bersamanya aku sering mencurahkan isi hatiku. Aku dan dia memiliki kesukaan yg sama terhadap penyanyi Ari Lasso. Sebenarnya sih, aku  yg paling fanatik menyukai Ari Lasso. Sewaktu SMP kami sering menyanyikan lagu Ari Lasso ketika pulang sekolah. Begitu banyak kenangan waktu SMP yg tidak bisa aku lupakan bersama Riska, sahabatku itu. Baik itu kenangan indah maupun segala kenangan yg menyedihkan. Tapi itu telah lewat, itu tinggal kenangan yg hanya ada di pikiranku ini. 
Satu jam telah berlalu, kini pemandangan yg ku lihat semakin memanjakan mataku. Hamparan pepohonan dan sawah-sawah kecil membentang di sebelah kiri dan kanan ku. Sesekali  kulihat burung dengan bebas berterbangan. Sempat terfikir dalam benakku ingin seperti salah satu di kawanan burung itu.
Mentari kian meninggalkan ufuk timur. Suasana pun menjadi semakin gelap. Pandangan sebelah kiriku berubah menjadi hamparan hitamnya pepohonan. Untunglah jalan tol yg kami lalui tidak macet seperti di awal perjalanan menuju Bandung. Sepanjang jalan yg kami lewati, kami hanya melihat hijaunya pemandangan berubah menjadi hitamnya perbukitan lantaran malam yg semakiin gelap.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, bis kami pun tiba di hotel. Semua rombongan langsung menuju meja makan karena makhluk-makhluk dalam perut sudah merongrong untuk segera diisi. Hari pertama sudah kami lalui dan kini setelah makan  tiba waktunya  beristirahat untuk esok kami memasuki hari kedua yaitu kunjungan ke UNPAD.
~ * ~
Hari baru.
Di pagi hari saat mentari bersemangat menyinari kota lautan api
Hamparan sawah menghijau menghiasi mata-mata insan yg memandang
Pemandangan nan menawan di suguhkan dengan bebas
Pegunungan memanjang menemani perjalanan sang insan
Bapa paruh baya bersepeda bersama anak nya yg masih kecil
Seorang ibu berteduh dari sinar mentari pagi
di bawah payung yg di gantung disepedanya,
gunung-gunung tinggi menjulang seakan tersenyum ramah kepada hati-hati yg nelangsa
perbukitan pun tak mau kalah menyapa insan-insan yg gundah
tak sebanding dengan batu permata kecantikannya
bak wanita yg dilukiskan  cantik oleh pelukisnya, kau alam menunjukkan keelokanmu

Namun...
Apa yg insan dapat setelah melewati perjalanan tanpa hambatan itu???
Tak sama
Berbeda
Tak ada hamparan kehijauan
Tak ada tak ada wanita dalam sunyinya
Yg ada hanya keramaian
Yg ada hanya kesibukan insan-insan kapitalis
Lihat saja, bangunan buatan manusia dapat menutup gunung buatan Tuhan
Akhh, inilah kota Bandung
April, 2013

Hari kedua perjalanan kami mungkin menjadi hari yg sangat berkesan untukku, karna hari ini aku dan teman-teman akan berkunjung ke UNPAD, dimana teman ku waktu SMA  kuliah disana.
Aku berharap hari itu aku bisa bertemu dengannya. Kami pun membuat janji untuk bertemu seusai study banding. Tepat pukul sepuluh aku dan rombongan tiba di UNPAD. Aku mengambil HP untuk mengirim SMS kepada temanku itu, Gerald.
Ger, Gw udah di kampus lu nih. Ternyata bagus juga ya kampus lu ini. Haha
hah? Serius? Cepet banget sampenya? Sekarang lu dimana?
gw di FIB nya ger, gw ke jurusan sastra inggrisnya
oohh, duhh gw gk sabar nih mau ketemu. Kangen udah lama gk ketemu. hahaha
iya nihh, ywdh nanti selesai kunjungan aja ketemunya
OK
Kunjungan berjalan selama dua jam dari jam sepuluh sampai jam 12 siang. Ketika aku lihat di rundown acara, kegiatan selanjutnya adalah ISHOMA atau istirahat, sholat dan makan siang sampai pukul dua siang dengan begitu aku akan punya waktu banyak di kampus yg terletak di Jatinangor itu. Dalam benakku, aku dan temanku itu bisa ngobrol-ngobrol lama tentang banyak hal  hingga pukul dua nanti dan kami bisa jalan-jalan keliling kampus atau melakukan kegiatan lainnya yg tidak membosankan.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Saat kami menyudahi kunjungan dan mendengarkan presentasi dari UNPAD dan UNJ. Gak sabar ingin bertemu temanku itu. Seperti apa dia sekarang, apakah masih seperti waktu SMA atau sudah berubah, apakah makin jelek kaya waktu SMA atau bertambah ganteng sejauh 0,1 mm. Rasa penasaran terus menyelimuti pikiranku.
Namun tiba-tiba salah satu dari panitia berkata “ Teman-teman, setelah ini kita akan makan siang dan sholat di RM. Ampera, Sindang Reret, deket koq dari UNPAD. Jadi temen-temen langsung masuk ke bis yaaa. Terima kasih.”
Mendengar pengumuman itu, perasaan ku berubah dari semangat menjadi kecewa karna ternyata dua jam kosong dalam susunan acara bukan dihabiskan di kampus UNPAD melainkan di Rumah Makan Ampera. Aku hanya terdiam selama sesi foto-foto selesai kunjungan. Secuil harapan muncul dalam benakku tatkala aku melihat beberapa anak UNPAD sedang nongkrong di sela-sela jam kuliah. Mungkin saja diantara tongkrongan itu ada temanku Gerald. Tapi semakin mataku ini menjelajahi sekeliling UNPAD, temanku itu tak juga muncul, bahkan SMS ku saja tidak dibalasnya. Dengan berat hati, kaki ku ini melangkah menuju bis yg tak jauh dari FIB. Langkah demi langkah ku ayunkan dengan berat untuk meninggalkan tempat itu. Tidak mungkin kan aku memisahkan diri dari rombongan hanya untuk sebuah alasan “ingin bertemu teman lama.”
Bis sudah dinyalakan pertanda aku akan meninggalkan UNPAD dengan kekecewaan tidak dapat bertemu teman SMA ku itu. Bis bergerak meninggalkan kampus, mata ini mencari temanku itu dengan harapan dapat melihat walau hanya sesaat, namun tak kunjung juga nampak orangnya. Bus sbaru saja keluar dr UNPAD tiba-tiba HP ku bergetar, segera ku baca SMS yg masuk
“Ta, sori baru bales, gw baru selesai kuliah nih. Lu masih di FIB”
“Yahh ger,  gw baru aja keluar dr UNPAD. Maap banget ya.”
“Lho koq cepet banget sih? Yahhh gk bisa ketemu dong?”
“Iya nihh, gak tau juga, panitia nya langsung nyuruh maksi di RM. AMPERA.”
Masih dalam perjalanan menuju RM. Ampera.
“Yaahhh, padahal gw udah pengen banget ketemu.”
 “Iya nihh gw juga, bete banget sama panitianya. Mereka langsung nyuruh makan siang di ampera.”
“Ooh gitu, di ampera yg deket unpad?”
“iya ger, nih gw baru nyampe ampera.”
“Oooh, ya udah deh kalo gitu nanti gw nyusul aja kesana selesai urusan gw”
“Oke dehhh”
Suasana hati kini berubah setelah beberapa jam yang lalu bete dan kecewa karna tidak bisa bertemu dengan Gerry. Setidaknya masih ada harapan untuk bisa bertemu temanku itu sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Cihampelas untuk berbelanja. Setelah makan siang, rombongan pun melaksanakan ibadah sholat bagi yg muslim. Sedangkan aku, masih menunggu Gerry datang.
Tiba-tiba HP ku bergetar “dimana ta? Gw udah di Ampera.”
“gw di dalemnya ger.”
 “ Iya gw juga udah di dalem restorannya.”
Sebelum aku menemuinya, aku mengajak Anissa yg juga teman SMA kami, tapi dia lebih memilih untuk menyusul nanti. Aku pun langsung bergegas melihat sekeliling mencari keberadaannya. Tak jauh dari tempatku makan bersama teman-teman, aku sudah bisa melihat sosok temanku itu.  Teman SMA yg dulu terlihat hitam kini bertambah semakin hitam bedanya kini ia semakin kurus. Segera aku menaiki tangga menemuinya. Kaget, senang, canggung dan perasaan-perasaan lainnya berkecambuk dibenakku. Maklum saja kami sudah lama tidak bertemu.
Disaat teman-temanku yg lain sedang sibuk sholat, kami menikmati waktu yg sebentar ini untuk mengobrol, mengenang masa-masa SMA, bersanda gurau dan lain sebagainya. Ada satu pembicaraan yg menurut ku sangat menarik yaitu ia masih mengingat janjinya untuk mentraktir eskrim beberapa tahun yg lalu. Aku pikir janji ini lewat begitu saja dari ingatan kami tapi ternyata ia masih mengingatnya.
Suasana alam sangat terasa di restoran tempat kami bertemu. Sekelilingnya di desain menyerupai desa-desa indah banyak ditumbuhi tanaman pula sehingga setiap orang yg makan akan teras seperti makan di alam bebas. Saung-saung banyak digunakan di restoran ini untuk menambah asri suasana. Saking menikmati waktu bersama tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Pertanda aku harus segera berkumpul bersama rombongan di bis. Padahal saat itu pula Gerry harus segera kembali ke kampusnya untuk kuliah. Seakan tidak ingin mengakhiri pembicaraan , kami terus saja mengobrol dan bersanda gurau. Tidak terasa waktu terus berlalu. Sambil menghantarku menuju bis, obrolan demi obrolan masih terus berlanjut. Dan tiba di depan pintu bis seakan-akan tak ingin berhenti ngobrol, aku mencuri-curi waktu untuk tidak masuk ke dalam bis terlebih dahulu. Tapi apa boleh buat, hanya waktu yg tidak dapat dihentikan walau hanya satu detik saja. Bis akan segera jalan, aku pun segera menyampaikan salam perpisahan kepadanya. Sebelum masuk kedalam bis aku masih dapat melihatnya pergi.
Perjalanan harus terus berlanjut, aku bersama rombongan menghabiskan sisa hari kedua kami dengan berbelanja di Cihampelas, salah satu tempat yg terkenal di Bandung. Tempat ini terkenal sebagai surga belanja di Bandung. Malam itu adalah malam bebas kami untuk menikmati suasana malam di Bandung sambil berbelanja. Aku bersama temanku, kami hanya berjalan-jalan mengelilingi Ciwalk mal yg ramai dengan anak muda Bandung. Sesekali kami mengabadikan moment disana dengan berfoto. Walaupun rasa lelah menyelimuti teman-temanku, mereka tetap saja semangat berbelanja. Tapi ada aja orang-orang yg enggan berbelanja karna  harga-harganya yg tidak lebih murah dibanding belanja di Jakarta, dan salah satunya adalah aku.
Suasana malam kota Bandung jelas sekali tergambar disana. Anak-anak mudanya yang masih bergairah dan penuh gelora asmara. Lampu-lampu kota seakan menyapa setiap wisatawan yang datang ke kota itu. Sesekali kulihat bule-bule melintas disana sambil ngobrol dengan bahasa mereka sendiri. Hembusan angin Bandung terasa dingin ketika kaki ku melangkah menikmati malam. Kulihat banyak orang menjajakan jualannya, mulai dari kaos bertuliskan “Bandung Paris Van Java”, aksesoris anak muda hingga makanan khas kota Bandung ada disana. Pedagang-peedagang ramah menawarkan dagangannya. Bis-bis pengantar rombongan banyak diparkir di dekat toko-toko dan di pinggir jalan . Supir-supir bis pengantar rombongan tenang beristirahat di bagasi samping bis. Mungkin mereka enggan untuk berkeliling mencuci mata atau berbelanja lantaran sudah sering bahkan terlalu sering melihat pemandangan seperti ini.
 Terlintas dalam benakku, masih bisakah aku datang kesini di lain kesempatan? Jauh dari itu semua aku sangat berharap ada sahabatku itu hadir disini menghabiskan waktu bersama. Akkhh, mungkin esok masih bisa.
Malam yang panjang, semua teman-temanku lelah sehabis berbelanja. Hampir semua tertidur di bis, tidak dihiraukan lagi hiburan yg dipasang disana baik lagu, film atau pun yg lain. Gelap malam terlihat jelas olehku dari jendela bis. Terbayang esok, di hari terakhir aku bisa bertemu Riska sahabatku. Semoga saja ini tidak hanya menjadi mimpi ditengah jalan.
Bis melaju dengan kencang. Semua tertidur karna lelahnya aktivitas seharian. Dingin menyerbu kulitku ini. Kulihat pepohonan berubah menjadi gelap sama seperti yg kulihat sewaktu menuju Bandung. Embun membasahi kaca jendela  bis. Teringat tentang pertemuanku tadi dengan Gerald. Tak sadar akupun senyum-senyum sendiri memikirkannya. Entah apa yg ada dibenakku saat ini. Dalam hati aku tertawa geli, kasihan sekali dia ditolak cintanya. Ada juga yaa cewe yg nolak dia, udah mana tambah item dibanding waktu SMA.Tapin lucunya sih gk berubah, masih kaya waktu dulu. Lho koq gw malah mikirin dia sih kaya gk ada yg lain aja.
Tidak terasa bis tiba di hotel. Teman-temanku langsung menuju kamarnya masing-masing untuk istirahat. Ruang makan pun sepi sekali karna banyak yg tidak makan lantaran sudah makan terlebih dahulu di mal, alhasil banyak makanan yg tersisa.
“Gilaaa gw capek banget, Bel”  kata teman sekamarku yg bernama nadia.
“Sama gw juga kali.” Jawab nadia dengan singkat. “ Eh nisa besok pagi bangunin kita dong, lu kan bisa bangun cepet tuh.. “
“iyeeee, udah nyantai aja kemaren pagi aja gw bangun yg pertama.” Sahut Anissa teman sekamarku juga.
“Ehh cuy, besok kalo kesiangan gk mungkin di tinggalin kan. Gw capek banget nihhh.” Kata Sheiya dengan muka ngantuknya.
“Yaa udah makanya lu cepetan molor jgn ngoceh mulu biar gk kesiangan ” Jawabku agak dengan nada tinggi sedikit.
Malam yang sepi, disaat teman-teman sekamarku telah lelap dalam tidur, aku masih menikmati online dimalam hari. Tidak banyak sih orang yg sedang daring malam-malam begini tapi ada satu orang yang menarik perhatianku untuk di ajak chat. Siapa lagi kalau bukan temanku yg ketemu tadi di tempat makan.
Waktu sudah menunjukkan larut malam, mata ini pun sudah mulai mengantuk. Segera ku tutup mata ini pertanda aku menutup hari yg sangat melelahkan ini.
***
Pagi-pagi sekali Anissa sudah membangunkan anak-anak sekamar. Dari luar kamar pun sudah terdengar suara temanku mengetuk-ngetuk pintu setiap kamar untuk membangunkan yg lainnya. Seusai aku saat teduh ku lihat mentari pagi mulai menerangi kota bandung. Sinar mentari perlahan menerobos jendela kamar hotel kami. Satu persatu setelah kami mandi, kami bersiap-siap untuk kunjungan terakhir ke UPI dan Saung Mang Udjo sebelum kami pulang ke Jakarta. Semua perlengkapan ku masukan ke koper. Tas ku pun sudah siap menemani perjalanan pulang ke Jakarta. Sekitar pukul sembilan setelah kami sarapan pagi bis melaju meninggalkan hotel untuk membawa kami meninggalkan tempat ini. Namun sebelumnya yang namanya moment foto-foto sebelum pergi itu wajib hukumnya.
Hari ini adalah hari terakhir ku di Bandung dengan kata lain semoga aku bisa bertemu sahabatku, Riska. Sekian panjang perjalananku di Bandung hari inilah yg ku tunggu-tunggu. Pertemuan dengan Riska pasti akan menjadikan perjalanan ini berarti dan tidak sia-sia. Sepanjang jalan menuju UPI perasaan ini begitu cerah seperti mentari yg menyinari Bandung di pagi hari. Tapi apakah cerah karna akan ada harapan untuk bertemu Riska atau karna kemarin telah bertemu teman lama. Akh, aku tidak tahu yg pasti aku tidak ingin merusak mentari dipagi hari. Aku hanya ingin terus berharap hari ini aku bisa bertemu sahabat.
Bis melaju mengantarkan kami hingga tiba di UPI. Ceramah demi ceramah kudengarkan walaupun agak membosankan. Kunjungan berakhir. Kami melanjutkan perjalanan untuk kunjungan terakhir setelah kami makan siang di salah satu restoran. Setibanya di Saung Mang Udjo kami di sambut hangat. Sebuah pertunjukan kesenian angklung yg memukau disuguhkan kepada setiap pengunjung yg datang. Akupun terkesima melihat anak-anak kecil lihai bermain angklung bahkan mereka mengajak pengunjung untuk belajar dan bermain angklung.
Waktu sudah semakin sore, pertunjukkanpun akan segera berakhir. Ini pertanda sebentar lagi  kami akan kembali ke Jakarta. Perjalanan yg cukup menyita energi ku akhirnya sebentar lagi akan berakhir. Aku pun segera meminta ijin kepada panitia dan dosen untuk berpisah dari rombongan karna akan menemui temanku disini. Satu persatu teman-temanku memasuki bis bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Aku menunggu di luar bis, ditemani rintik gerimis yg menjadikan Bandung terasa dingin sekali, untuk mendapatkan kepastian apakah diijinkan atau tidak. Ternyata tidak ada hanya aku saja yg ingin tetap di Bandung namun ada beberapa temanku juga. Semakin lama gerimis semakin mendinginkan kulit ini. Perasaan cemas mulai menghampiriku. 

Lima menit menunggu.

Sepuluh menit menunggu.

Dan terus menunggu. Entah apa yg di urus oleh panitia dan dosen.
Setengah jam menunggu tanpa ada kepastian.
Akhirnya setelah menunggu lama beberapa panitia menghampiri kami,
“Tadi sih gw udah ngomong sama dosen-dosen kalo kalian pada mau nambah hari disini tapi katanya gk bisa. Gimana dong?”
“ah serius lo?” Tanya Vina temanku.
“Maap banget ya sebelumnya , tadi sih bilangnya semua rombongan harus balik kejakarta semua kalo ada yg mau tetep disini yaa harus dari jakarta dulu.”
“Apaan sih maksudnya tuh, gk enak banget sih klo gitu.” Sahut Dony yg agak kesal dengan keputusan ini.
“Terus kita harus balik ke Jakarta nih gk boleh misah baliknya?” tanya ku penuh kekecewaan.
“Gk bisa, sori banget ya temen-temen” Jawabnya sambil meminta maaf. “Yaa udah yuk naek ke bis, udah pada nungguin tuh di dalem. Bis nya juga udah mau jalan.”
Nyaris aku tidak percaya dengan semua ini. Langkah demi langkah ku ayunkan ke dalam bis walaupun berat terasa. Harapan yg selama ini ku bawa dari Jakarta ternyata harus ku bawa kembali ke Jakarta tanpa hasil apa-apa. Apa boleh buat pertemuan yg ku harapkan tidak dapat terwujud. Sepertinya aku harus mengubur kerinduan ini dalam-dalam sampai suatu hari nanti dapat bertemu Riska. Walaupun jauh, tidak dapat betemu dan sama-sama sibuk tapi yg namanya sahabat tetap sahabat sampai kapanpun. 

Malam ini begitu dingin lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Pepohon yg kulihat di malam hari ketika pergi tak lagi seindah yg ku pandang ketika pulang. Saat pergi aku masih bisa berkata pada pepohon gelap yg berkejaran bahwa aku pergi membawa harapan untuk bertemu sahabatku, kini ketika pulangpun aku masih bisa berkata pada mereka tapi yg kukatakan adalah kesedihanku yg tidak dapat bertemu dia. Aku hanya ingin bertemu.

Selamat tinggal Bandung, kota sahabatku. .

Cerita Kita di Batu, Malang, dan Bromo

Di blog gw kali ini, gw ingin cerita tentang perjalanan gw dan temen-temen ke Malang. Sebenernya banyak tempat wisata lain yang udah pernah ...