Diiringi mentari yang
kian tenggelam. Bis melaju dengan cepat. Masing-masing menikmati kesibukannya
sendiri. Walaupun ada hiburan film, tapi ada saja orang yg tidak menikmatinya
dan memilih tidur. Ada pula yang asyik dengan obrolannya, gosip, atau
cerita-ceita diantara anak muda.
Kira-kira pukul lima
sore, cahaya mentari yang kian meredup
seakan menandai semangat kami yg juga sudah tinggal sedikit. Tidak heran,
soalnya dari pagi kami disibukkan dengan kunjungan-kunjungan PKL atau Praktek Kerja
Lapangan ke berbagai tempat, yang katanya sihh sesuai dengan latar belakang keilmuan kami (sastra Inggris).
Perjalanan hari ini pun
belum selesai sampai dikunjungan-kunjungan tersebut, masih berlanjut hingga
nanti malam dengan tujuan kota Bandung. Yaa Bandung, kota besar yg menjadi tujuan perjalanan kami.
Kepala ini pun merebah ke
senderan bangku tempat ku duduk di bis. Di sebelah kiriku cahaya mentari begitu
setia menemani perjalanan ini, seakan mengawasi bis yg kami tumpangi. Tidak
hanya itu, pohon-pohon berbaris untuk datang dan lalu dari penglihatanku.
Sesekali ku melihat indahnya bunga-bunga di pinggir tol Cikampek, berwarna
kuning seakan memberi gairah kepada setiap mobil yg lalu lalang. Terkadang mata
ini menoleh ke kanan, yg ada hanyalah deretan mobil-mobil yg sedang melintas. Canda
tawa dari beberapa temanku menghiasi suasana yg jarang kami rasakan jika di
kampus.
Apa yg sedang aku pikirkan
bukanlah tentang bagaimana perjalanan ini nantinya. Tapi jauh di lubuk hatiku
kuingin bisa bertemu dia , sahabatku, yg tinggal di Bandung. Aku sangat
merindukannya. Semenjak kami lulus SMP, kami jarang sekali bertemu, bisa
dikatakan hampir tidak pernah. Kurang lebih lima tahun kami tidak pernah
bertemu. Rasa rindu yg menyelimuti relung jiwaku ini seakan sudah tak mampu terbendung
lagi. Ingin rasanya segera bertemu dia dan curhat segala isi hatiku kepadanya.
Ku ingin cerita apa saja yg aku alami selama kurang lebih lima tahun ini. Mencurahkan
segala perasaanku pada sahabatku ini, menumpahkan segala air mata ku di
pundaknya dan melihat senyumnya yg menenangkan hati.
Perjalanan masih
berlanjut, film pun telah usai, dilanjutkan dengan musik-musik anak muda, yaaa katanya sih asyik untuk
didengarkan. Tapi buatku tetap saja, menikmati pemandangan di luar kaca bis dan
memikirkan akan bertemu seorang sahabat yg sudah lama tidak ketemu adalah hal
yg paling mengasyikkan dibanding menonton film atau mendengar musik.
Sahabatku itu, Riska
namanya, adalah sahabat terbaik yg pernah aku miliki sewaktu SMP dulu.
Bersamanya aku sering mencurahkan isi hatiku. Aku dan dia memiliki kesukaan yg
sama terhadap penyanyi Ari Lasso. Sebenarnya sih, aku yg paling fanatik menyukai Ari Lasso. Sewaktu
SMP kami sering menyanyikan lagu Ari Lasso ketika pulang sekolah. Begitu banyak
kenangan waktu SMP yg tidak bisa aku lupakan bersama Riska, sahabatku itu. Baik
itu kenangan indah maupun segala kenangan yg menyedihkan. Tapi itu telah lewat,
itu tinggal kenangan yg hanya ada di pikiranku ini.
Satu jam telah berlalu,
kini pemandangan yg ku lihat semakin memanjakan mataku. Hamparan pepohonan dan
sawah-sawah kecil membentang di sebelah kiri dan kanan ku. Sesekali kulihat burung dengan bebas berterbangan.
Sempat terfikir dalam benakku ingin seperti salah satu di kawanan burung itu.
Mentari kian meninggalkan
ufuk timur. Suasana pun menjadi semakin gelap. Pandangan sebelah kiriku berubah
menjadi hamparan hitamnya pepohonan. Untunglah jalan tol yg kami lalui tidak
macet seperti di awal perjalanan menuju Bandung. Sepanjang jalan yg kami
lewati, kami hanya melihat hijaunya pemandangan berubah menjadi hitamnya
perbukitan lantaran malam yg semakiin gelap.
Waktu menunjukkan pukul
sembilan malam, bis kami pun tiba di hotel. Semua rombongan langsung menuju
meja makan karena makhluk-makhluk dalam perut sudah merongrong untuk segera
diisi. Hari pertama sudah kami lalui dan kini setelah makan tiba waktunya
beristirahat untuk esok kami memasuki hari kedua yaitu kunjungan ke
UNPAD.
~ * ~
Hari baru.
Di pagi hari saat mentari bersemangat
menyinari kota lautan api
Hamparan sawah menghijau menghiasi
mata-mata insan yg memandang
Pemandangan nan menawan di suguhkan
dengan bebas
Pegunungan memanjang menemani
perjalanan sang insan
Bapa paruh baya bersepeda bersama anak
nya yg masih kecil
Seorang ibu berteduh dari sinar mentari
pagi
di bawah payung yg di gantung
disepedanya,
gunung-gunung tinggi menjulang seakan
tersenyum ramah kepada hati-hati yg nelangsa
perbukitan pun tak mau kalah menyapa
insan-insan yg gundah
tak sebanding dengan batu permata
kecantikannya
bak wanita yg dilukiskan cantik oleh pelukisnya, kau alam menunjukkan
keelokanmu
Namun...
Apa yg insan dapat setelah melewati
perjalanan tanpa hambatan itu???
Tak sama
Berbeda
Tak ada hamparan kehijauan
Tak ada tak ada wanita dalam sunyinya
Yg ada hanya keramaian
Yg ada hanya kesibukan insan-insan
kapitalis
Lihat saja, bangunan buatan manusia
dapat menutup gunung buatan Tuhan
Akhh, inilah kota Bandung
April, 2013
Hari kedua perjalanan
kami mungkin menjadi hari yg sangat berkesan untukku, karna hari ini aku dan
teman-teman akan berkunjung ke UNPAD, dimana teman ku waktu SMA kuliah disana.
Aku berharap hari itu aku
bisa bertemu dengannya. Kami pun membuat janji untuk bertemu seusai study
banding. Tepat pukul sepuluh aku dan rombongan tiba di UNPAD. Aku mengambil HP
untuk mengirim SMS kepada temanku itu, Gerald.
Ger, Gw udah di kampus lu nih. Ternyata bagus juga
ya kampus lu ini. Haha
hah? Serius? Cepet banget sampenya? Sekarang lu
dimana?
gw di FIB nya ger, gw ke jurusan sastra inggrisnya
oohh, duhh gw gk sabar nih mau ketemu. Kangen udah
lama gk ketemu. hahaha
iya nihh, ywdh nanti selesai kunjungan aja
ketemunya
OK
Kunjungan berjalan selama
dua jam dari jam sepuluh sampai jam 12 siang. Ketika aku lihat di rundown acara, kegiatan selanjutnya
adalah ISHOMA atau istirahat, sholat dan makan siang sampai pukul dua siang dengan
begitu aku akan punya waktu banyak di kampus yg terletak di Jatinangor itu.
Dalam benakku, aku dan temanku itu bisa ngobrol-ngobrol lama tentang banyak hal
hingga pukul dua nanti dan kami bisa
jalan-jalan keliling kampus atau melakukan kegiatan lainnya yg tidak
membosankan.
Waktu menunjukkan pukul
dua belas siang. Saat kami menyudahi kunjungan dan mendengarkan presentasi dari
UNPAD dan UNJ. Gak sabar ingin bertemu temanku itu. Seperti apa dia sekarang,
apakah masih seperti waktu SMA atau sudah berubah, apakah makin jelek kaya
waktu SMA atau bertambah ganteng sejauh 0,1 mm. Rasa penasaran terus
menyelimuti pikiranku.
Namun tiba-tiba salah
satu dari panitia berkata “ Teman-teman, setelah ini kita akan makan siang dan
sholat di RM. Ampera, Sindang Reret, deket koq dari UNPAD. Jadi temen-temen
langsung masuk ke bis yaaa. Terima kasih.”
Mendengar pengumuman itu,
perasaan ku berubah dari semangat menjadi kecewa karna ternyata dua jam kosong
dalam susunan acara bukan dihabiskan di kampus UNPAD melainkan di Rumah Makan
Ampera. Aku hanya terdiam selama sesi foto-foto selesai kunjungan. Secuil
harapan muncul dalam benakku tatkala aku melihat beberapa anak UNPAD sedang
nongkrong di sela-sela jam kuliah. Mungkin saja diantara tongkrongan itu ada
temanku Gerald. Tapi semakin mataku ini menjelajahi sekeliling UNPAD, temanku
itu tak juga muncul, bahkan SMS ku saja tidak dibalasnya. Dengan berat hati,
kaki ku ini melangkah menuju bis yg tak jauh dari FIB. Langkah demi langkah ku
ayunkan dengan berat untuk meninggalkan tempat itu. Tidak mungkin kan aku
memisahkan diri dari rombongan hanya untuk sebuah alasan “ingin bertemu teman
lama.”
Bis sudah dinyalakan pertanda
aku akan meninggalkan UNPAD dengan kekecewaan tidak dapat bertemu teman SMA ku
itu. Bis bergerak meninggalkan kampus, mata ini mencari temanku itu dengan
harapan dapat melihat walau hanya sesaat, namun tak kunjung juga nampak
orangnya. Bus sbaru saja keluar dr UNPAD tiba-tiba HP ku bergetar, segera ku
baca SMS yg masuk
“Ta, sori baru bales, gw baru selesai kuliah nih.
Lu masih di FIB”
“Yahh ger,
gw baru aja keluar dr UNPAD. Maap banget ya.”
“Lho koq cepet banget sih? Yahhh gk bisa ketemu
dong?”
“Iya nihh, gak tau juga, panitia nya langsung
nyuruh maksi di RM. AMPERA.”
Masih dalam perjalanan
menuju RM. Ampera.
“Yaahhh, padahal gw udah pengen banget ketemu.”
“Iya nihh
gw juga, bete banget sama panitianya. Mereka langsung nyuruh makan siang di
ampera.”
“Ooh gitu, di ampera yg deket unpad?”
“iya ger, nih gw baru nyampe ampera.”
“Oooh, ya udah deh kalo gitu nanti gw nyusul aja
kesana selesai urusan gw”
“Oke dehhh”
Suasana hati kini berubah
setelah beberapa jam yang lalu bete dan kecewa karna tidak bisa bertemu dengan Gerry.
Setidaknya masih ada harapan untuk bisa bertemu temanku itu sebelum akhirnya
kami melanjutkan perjalanan menuju Cihampelas untuk berbelanja. Setelah makan
siang, rombongan pun melaksanakan ibadah sholat bagi yg muslim. Sedangkan aku,
masih menunggu Gerry datang.
Tiba-tiba HP ku bergetar
“dimana ta? Gw udah di Ampera.”
“gw di dalemnya ger.”
“ Iya gw
juga udah di dalem restorannya.”
Sebelum aku menemuinya,
aku mengajak Anissa yg juga teman SMA kami, tapi dia lebih memilih untuk
menyusul nanti. Aku pun langsung bergegas melihat sekeliling mencari
keberadaannya. Tak jauh dari tempatku makan bersama teman-teman, aku sudah bisa
melihat sosok temanku itu. Teman SMA yg
dulu terlihat hitam kini bertambah semakin hitam bedanya kini ia semakin kurus.
Segera aku menaiki tangga menemuinya. Kaget, senang, canggung dan
perasaan-perasaan lainnya berkecambuk dibenakku. Maklum saja kami sudah lama
tidak bertemu.
Disaat teman-temanku yg
lain sedang sibuk sholat, kami menikmati waktu yg sebentar ini untuk mengobrol,
mengenang masa-masa SMA, bersanda gurau dan lain sebagainya. Ada satu
pembicaraan yg menurut ku sangat menarik yaitu ia masih mengingat janjinya
untuk mentraktir eskrim beberapa tahun yg lalu. Aku pikir janji ini lewat
begitu saja dari ingatan kami tapi ternyata ia masih mengingatnya.
Suasana alam sangat
terasa di restoran tempat kami bertemu. Sekelilingnya di desain menyerupai
desa-desa indah banyak ditumbuhi tanaman pula sehingga setiap orang yg makan
akan teras seperti makan di alam bebas. Saung-saung banyak digunakan di
restoran ini untuk menambah asri suasana. Saking menikmati waktu bersama tak
terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Pertanda aku harus segera
berkumpul bersama rombongan di bis. Padahal saat itu pula Gerry harus segera
kembali ke kampusnya untuk kuliah. Seakan tidak ingin mengakhiri pembicaraan ,
kami terus saja mengobrol dan bersanda gurau. Tidak terasa waktu terus berlalu.
Sambil menghantarku menuju bis, obrolan demi obrolan masih terus berlanjut. Dan
tiba di depan pintu bis seakan-akan tak ingin berhenti ngobrol, aku
mencuri-curi waktu untuk tidak masuk ke dalam bis terlebih dahulu. Tapi apa
boleh buat, hanya waktu yg tidak dapat dihentikan walau hanya satu detik saja.
Bis akan segera jalan, aku pun segera menyampaikan salam perpisahan kepadanya. Sebelum
masuk kedalam bis aku masih dapat melihatnya pergi.
Perjalanan harus terus
berlanjut, aku bersama rombongan menghabiskan sisa hari kedua kami dengan
berbelanja di Cihampelas, salah satu tempat yg terkenal di Bandung. Tempat ini
terkenal sebagai surga belanja di Bandung. Malam itu adalah malam bebas kami
untuk menikmati suasana malam di Bandung sambil berbelanja. Aku bersama
temanku, kami hanya berjalan-jalan mengelilingi Ciwalk mal yg ramai dengan anak
muda Bandung. Sesekali kami mengabadikan moment disana dengan berfoto. Walaupun
rasa lelah menyelimuti teman-temanku, mereka tetap saja semangat berbelanja.
Tapi ada aja orang-orang yg enggan berbelanja karna harga-harganya yg tidak lebih murah dibanding
belanja di Jakarta, dan salah satunya adalah aku.
Suasana malam kota
Bandung jelas sekali tergambar disana. Anak-anak mudanya yang masih bergairah
dan penuh gelora asmara. Lampu-lampu kota seakan menyapa setiap wisatawan yang
datang ke kota itu. Sesekali kulihat bule-bule melintas disana sambil ngobrol
dengan bahasa mereka sendiri. Hembusan angin Bandung terasa dingin ketika kaki
ku melangkah menikmati malam. Kulihat banyak orang menjajakan jualannya, mulai
dari kaos bertuliskan “Bandung Paris Van Java”, aksesoris anak muda hingga
makanan khas kota Bandung ada disana. Pedagang-peedagang ramah menawarkan
dagangannya. Bis-bis pengantar rombongan banyak diparkir di dekat toko-toko dan
di pinggir jalan . Supir-supir bis pengantar rombongan tenang beristirahat di
bagasi samping bis. Mungkin mereka enggan untuk berkeliling mencuci mata atau
berbelanja lantaran sudah sering bahkan terlalu sering melihat pemandangan
seperti ini.
Terlintas dalam benakku, masih bisakah aku
datang kesini di lain kesempatan? Jauh dari itu semua aku sangat berharap ada
sahabatku itu hadir disini menghabiskan waktu bersama. Akkhh, mungkin esok
masih bisa.
Malam yang panjang, semua
teman-temanku lelah sehabis berbelanja. Hampir semua tertidur di bis, tidak
dihiraukan lagi hiburan yg dipasang disana baik lagu, film atau pun yg lain.
Gelap malam terlihat jelas olehku dari jendela bis. Terbayang esok, di hari
terakhir aku bisa bertemu Riska sahabatku. Semoga saja ini tidak hanya menjadi
mimpi ditengah jalan.
Bis melaju dengan
kencang. Semua tertidur karna lelahnya aktivitas seharian. Dingin menyerbu
kulitku ini. Kulihat pepohonan berubah menjadi gelap sama seperti yg kulihat
sewaktu menuju Bandung. Embun membasahi kaca jendela bis. Teringat tentang pertemuanku tadi dengan
Gerald. Tak sadar akupun senyum-senyum sendiri memikirkannya. Entah apa yg ada
dibenakku saat ini. Dalam hati aku tertawa geli, kasihan sekali dia ditolak cintanya. Ada juga yaa cewe yg nolak dia,
udah mana tambah item dibanding waktu SMA.Tapin lucunya sih gk berubah, masih
kaya waktu dulu. Lho koq gw malah mikirin dia sih kaya gk ada yg lain aja.
Tidak terasa bis tiba di
hotel. Teman-temanku langsung menuju kamarnya masing-masing untuk istirahat.
Ruang makan pun sepi sekali karna banyak yg tidak makan lantaran sudah makan
terlebih dahulu di mal, alhasil banyak makanan yg tersisa.
“Gilaaa gw capek banget,
Bel” kata teman sekamarku yg bernama
nadia.
“Sama gw juga kali.”
Jawab nadia dengan singkat. “ Eh nisa besok pagi bangunin kita dong, lu kan
bisa bangun cepet tuh.. “
“iyeeee, udah nyantai aja
kemaren pagi aja gw bangun yg pertama.” Sahut Anissa teman sekamarku juga.
“Ehh cuy, besok kalo
kesiangan gk mungkin di tinggalin kan. Gw capek banget nihhh.” Kata Sheiya
dengan muka ngantuknya.
“Yaa udah makanya lu
cepetan molor jgn ngoceh mulu biar gk kesiangan ” Jawabku agak dengan nada
tinggi sedikit.
Malam yang sepi, disaat
teman-teman sekamarku telah lelap dalam tidur, aku masih menikmati online dimalam hari. Tidak banyak sih
orang yg sedang daring malam-malam begini tapi ada satu orang yang menarik
perhatianku untuk di ajak chat. Siapa
lagi kalau bukan temanku yg ketemu tadi di tempat makan.
Waktu sudah menunjukkan
larut malam, mata ini pun sudah mulai mengantuk. Segera ku tutup mata ini
pertanda aku menutup hari yg sangat melelahkan ini.
***
Pagi-pagi sekali Anissa
sudah membangunkan anak-anak sekamar. Dari luar kamar pun sudah terdengar suara
temanku mengetuk-ngetuk pintu setiap kamar untuk membangunkan yg lainnya.
Seusai aku saat teduh ku lihat mentari pagi mulai menerangi kota bandung. Sinar
mentari perlahan menerobos jendela kamar hotel kami. Satu persatu setelah kami
mandi, kami bersiap-siap untuk kunjungan terakhir ke UPI dan Saung Mang Udjo
sebelum kami pulang ke Jakarta. Semua perlengkapan ku masukan ke koper. Tas ku
pun sudah siap menemani perjalanan pulang ke Jakarta. Sekitar pukul sembilan
setelah kami sarapan pagi bis melaju meninggalkan hotel untuk membawa kami
meninggalkan tempat ini. Namun sebelumnya yang namanya moment foto-foto sebelum
pergi itu wajib hukumnya.
Hari ini adalah hari
terakhir ku di Bandung dengan kata lain semoga aku bisa bertemu sahabatku,
Riska. Sekian panjang perjalananku di Bandung hari inilah yg ku tunggu-tunggu.
Pertemuan dengan Riska pasti akan menjadikan perjalanan ini berarti dan tidak
sia-sia. Sepanjang jalan menuju UPI perasaan ini begitu cerah seperti mentari
yg menyinari Bandung di pagi hari. Tapi apakah cerah karna akan ada harapan
untuk bertemu Riska atau karna kemarin telah bertemu teman lama. Akh, aku tidak
tahu yg pasti aku tidak ingin merusak mentari dipagi hari. Aku hanya ingin
terus berharap hari ini aku bisa bertemu sahabat.
Bis melaju mengantarkan
kami hingga tiba di UPI. Ceramah demi ceramah kudengarkan walaupun agak
membosankan. Kunjungan berakhir. Kami melanjutkan perjalanan untuk kunjungan
terakhir setelah kami makan siang di salah satu restoran. Setibanya di Saung
Mang Udjo kami di sambut hangat. Sebuah pertunjukan kesenian angklung yg
memukau disuguhkan kepada setiap pengunjung yg datang. Akupun terkesima melihat
anak-anak kecil lihai bermain angklung bahkan mereka mengajak pengunjung untuk
belajar dan bermain angklung.
Waktu sudah semakin sore,
pertunjukkanpun akan segera berakhir. Ini pertanda sebentar lagi kami akan kembali ke Jakarta. Perjalanan yg
cukup menyita energi ku akhirnya sebentar lagi akan berakhir. Aku pun segera meminta
ijin kepada panitia dan dosen untuk berpisah dari rombongan karna akan menemui
temanku disini. Satu persatu teman-temanku memasuki bis bersiap-siap untuk
kembali ke Jakarta. Aku menunggu di luar bis, ditemani rintik gerimis yg
menjadikan Bandung terasa dingin sekali, untuk mendapatkan kepastian apakah
diijinkan atau tidak. Ternyata tidak ada hanya aku saja yg ingin tetap di
Bandung namun ada beberapa temanku juga. Semakin lama gerimis semakin mendinginkan
kulit ini. Perasaan cemas mulai menghampiriku.
Lima menit menunggu.
Sepuluh menit menunggu.
Dan terus menunggu. Entah
apa yg di urus oleh panitia dan dosen.
Setengah jam menunggu
tanpa ada kepastian.
Akhirnya setelah menunggu
lama beberapa panitia menghampiri kami,
“Tadi sih gw udah ngomong
sama dosen-dosen kalo kalian pada mau nambah hari disini tapi katanya gk bisa.
Gimana dong?”
“ah serius lo?” Tanya
Vina temanku.
“Maap banget ya
sebelumnya , tadi sih bilangnya semua rombongan harus balik kejakarta semua
kalo ada yg mau tetep disini yaa harus dari jakarta dulu.”
“Apaan sih maksudnya tuh,
gk enak banget sih klo gitu.” Sahut Dony yg agak kesal dengan keputusan ini.
“Terus kita harus balik
ke Jakarta nih gk boleh misah baliknya?” tanya ku penuh kekecewaan.
“Gk bisa, sori banget ya
temen-temen” Jawabnya sambil meminta maaf. “Yaa udah yuk naek ke bis, udah pada
nungguin tuh di dalem. Bis nya juga udah mau jalan.”
Nyaris aku tidak percaya
dengan semua ini. Langkah demi langkah ku ayunkan ke dalam bis walaupun berat
terasa. Harapan yg selama ini ku bawa dari Jakarta ternyata harus ku bawa
kembali ke Jakarta tanpa hasil apa-apa. Apa boleh buat pertemuan yg ku harapkan
tidak dapat terwujud. Sepertinya aku harus mengubur kerinduan ini dalam-dalam
sampai suatu hari nanti dapat bertemu Riska. Walaupun jauh, tidak dapat betemu
dan sama-sama sibuk tapi yg namanya sahabat tetap sahabat sampai kapanpun.
Malam ini begitu dingin
lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Pepohon yg kulihat di malam hari
ketika pergi tak lagi seindah yg ku pandang ketika pulang. Saat pergi aku masih
bisa berkata pada pepohon gelap yg berkejaran bahwa aku pergi membawa harapan
untuk bertemu sahabatku, kini ketika pulangpun aku masih bisa berkata pada
mereka tapi yg kukatakan adalah kesedihanku yg tidak dapat bertemu dia. Aku
hanya ingin bertemu.
Selamat tinggal Bandung,
kota sahabatku. .