“Segala perbedaan itu membuatmu jauh dariku
biarlah sang waktu menjaga cintamu”,,,
Gak sengaja lagu
itu terputar di laptop ku mengingatkanku pada sahabat ku yg kini jauh disana.
Lagu ini adalah lagu Ari Lasso yg paling ia suka.
Segala kenangan
indah pun terngiang di otakku, apalagi lagu ini mengingatkan ku padanya,
saat-saat kami masih bersekolah dulu. Saat masih tertawa bersama, menangis
bersama, dan segalanya bersama.
Tapi kini ia
telah jauh disana. Ingin sekali ku bisa bertemu dengannya, memeluknya, menangis
di pundaknya dan curhat dengannya. Terlebih ketika kuterima pesan singkat
darinya yang menceritakan segala permasalahan dan kesedihannya. Ingin rasanya
ku ada di sampingnya dan merangkulnya erat-erat dan dan berkata “Riska, jangan
sedih yaa...”.
“Tetes air mata mengalir di sela derai tawa...”
kini lagu itu yg kudengar, semakin kudengar tak terasa air mata membasahi pipi
ini. Hujan di luar pun mulai turun seraya mengerti kerinduan ini padanya.
Seperti tahu rasa di hati ini.
“Ris, seandainya
lu ada disini... gw butuh seorang sahabat disini...” T.T
Rindu yang
menyiksa batin ini akankah berakhir? Mengapa jarak memisahkan kita? Mengapa
persahabatan kita singkat sekali, hanya ketika kita sekolah? Bisakah kita tetap
bersama seperti dulu? Seperti saat kita pulang sekolah bersama, seperti saat
kita bercanda bersama, saat kita marahan, saat kita berdua pergi ke TMII, Graha
Cijantung, berenang, dan saat ku melihat dirimu dengan nya, saat ku marah
padamu, saat kita belajar bersama, bermain bersama, bernyanyi bersama. Dan
disaat ku menangis ketika mendengarkan lagu “hampa” di hari jumat, ketika hanya
kita berdua saja di dalam kelas sepulang sekolah.
Tidak sengaja
(lagi-lagi) lagu “hampa” berputar dilaptop ini dan air mata itupun tak bisa ku
bendung lagi.... “entah dimana dirimu
berada, hampa terasa hidupku tanpa dirimu, apakah disana kau rindukan aku,
seperti diriku yg selalu merindukanmu... selalu merindukanmu”
Hujan dan air
mata. Ada apa dengan malam ini, mengapa kalian datang bersamaan saat aku sedang
merindukan sahabat ku itu?
Tik...
Tik...
Tik..
Tik...
Tik..
Kupandangi foto
kita waktu dulu, satu demi satu. Tetes demi tetes air mata. Foto kenangan yg
masih kusimpan rapi. Disana kita tersenyum, tertawa, tak ada beban tak ada air
mata. Kini semua hanyalah kenangan. Semuanya telah berlalu dan menjadi masa
lalu kita. Sekarang saatnya ku simpan baik-baik foto itu dan menutup setiap
kenangan dengan rapi di hatiku agar tetap terjaga sampai kapanpun. Juga
menyimpan persahabatan ini dalam-dalam di dalam jiwa kita...
“Semoga aku masih bisa melewatkan masa
separuh putaran bumi, jalanku tak panjang mungkin untuk bisa menuai waktu
bersama dirimu”...
Jakarta, 29
Mei 2013