Kamis, 28 Maret 2013

Sampai puas baru aku akan selesai menulis


Sampai puas baru aku akan selesai menulis. Karna menulis adalah kehidupanku. Dunia ku. Dimana tidak ada seorangpun yg mengatur aku. Aku adalah tuhan untuk tulisanku. Aku yg akan mengatur mereka. Dengan apa dimulai, dimana harus diakhiri, perjalanan yg seperti apa, dan segalanya . semua aku yg menguasai. Mencurahkan segala isi hati, mengungkapkan segala isi pikiran, dan melukiskan setiap perasankku ke dalam tulisanku. Duniaku yg tanpa batas ini hanya aku yg miliki dan tidak ingin ada orang lain yg merebutnya karna tulisanku adalah diriku dan duniaku. Bahkan ketika aku menulis ini aku memasuki dunia yg fatamorgana ku dan meninggalkan dunia nyataku. Dunia nyata yg sesungguhnya telah lama sekali ingin kutinggalkan dan ku lepas namun mengapa raga ini sulit sekali dipisahkan dari dunia nyataku meskipun jiwa ini telah menyatu dengan dunia fatamorganaku. Aku yg dalam tulisanku adalah orang lain bagi fisik nyata ini. Dunia yg kubuat sendiri ini membuatku dapat melampiaskan segala hal di dunia nyataku kepada dunia fatamorganaku.
Inilah aku dan duniaku dan inilah aku dan kehidupanku. Tak seorangpun dapat memasukinya karna hanyalah sebuah fatamorgana tulisan. Tak seorang juga yg dapat merebutnya karna selama ku hidup dunia ini kan tetap ada dalam fatamorgana. Aku tidak akan pernah berhenti untuk menulis karna jika ku berhenti berarti duniaku pun berhenti. Sebuah keadaan yg tak dapat terjadi dalam kenyataan dapat aku ciptakan dalam tulisanku. Perasaan yg tak bisa ku rasa di dunia fisik ini dapat ku ciptakan dalam dunia fatamorganaku. Apapun yg tak dapat terjadi di dalam dunia ini dapat ku buat terjadi di dalam duniaku ini. Sebab akulah tuhan untukdunia fatamorgna ini.

DI BALIK PUISI “MEREKA BUTUH RECEH”


“Merek Butuh Receh” adalah puisi yg dibuat sekitar tahun 2010 dan selesai pada tahun 2012. Puisi ini bercerita tentang anak-anak jalanan yg mengamen di bis-bis kota dan di jalanan. Aku memilih judul ini untuk menggambarkan bahwa yg mereka butuhkan adalah hal yg sangat sederhana dan kecil yg mungkin selama ini kita anggap sepele dan bukanlah hal yg mewah. Namun, bagi mereka (anak-anak jalanan) receh yg orang-orang berikan sangatlah berharga untuk mereka dapat melangsungkan hidup di hari esok.
            Puisi ini dibagi dalam tiga bagian, “Mereka Butuh Receh” part I, II, III. Ketiga part tersebut merupakan satu kesatuan cerita yang setiap part memiliki kisahnya tersendiri. Setiap kisah di dalam puisi tersebut bercerita tentang anak-anak jalanan yg berusaha untuk mempertahankan hidupnya melalui receh-receh yg mereka cari. Aku memilih untuk menggunakan objek anak-anak sebagai tokoh didalam puisi karena terinspirasi oleh banyak anak-anak yg mengadu nasib mereka dijalanan. Pemandangan tersebut sering sekali aku lihat ketika akan berangkat maupun pulang sekolah. Karena fenomena itulah aku tertarik untuk mengangkat kehidupan mereka ke dalam puisi ini.
            Mereka butuh receh part I dikerjakan sekitar tahun 2010 dimana aku menghabiskan waktu sekitar 1 bulan untuk dapat menyelesaikan puisi part 1 ini. Dalam puisi ini aku mencoba memperkenalkan tentang gambaran tokoh, tempat, dan kejadian yg terdapat di puisi ini. Sebagai contoh “Anak kecil berlari melawan roda2 bis kota” menggambarkan kehidupan anak2 jalanan yg mengejar bis kota dengan sekuat tenaga untuk dapat mengamen dan mendapatkan receh-receh dari penumpang yg ada. Dalam part ini pula aku mendeskripsikan keadaan anak2 itu yg tetap berjuang apapun yg terjadi baik itu hujan maupun panas dan hal ini lah yg melahirkan kondisi anak-anak jalanan dalam part II.
            Part II, Mereka butuh receh part II adalah kelanjutan cerita dari part I. Dalam bagian ini aku menggambarkan kondisi anak-anak jalanan tersebut yg bertambah parah baik dari kondisi fisik maupun psikis mereka. Kondisi yg terjadi di dalam part satu - kehujanan, kepanasan, tidak mendapatkan receh, dll- menyebabkan kondisi fisik mereka menurun yg tergambar melalui kata-kata “… kulit telapak yg terbakar parah… ; lapar yg menderu di dalam perutnya ; matanya yg sayu”. Di puisi MBR part II juga tergambar adanya kelas sosial yg berbeda antara orang yg kaya yg di representasikan melalui ungkapan Iambang kemewahan yg berhenti dan kaca-kaca jendela, dan orang miskin yg di representasikan melalui kata-kata sampah masyarakat dan gembel. Dalam hal ini aku memakai kata lambang kemewahan yg berhenti dan kaca2 yg terbuka untuk mengungkapkan yg dimaksud adalah mobil-mobil mewah.
            Part II juga menjadi inti dari keseluruhan puisi Mereka Butuh Receh ini karna dalam part II ini tergambar si anak yg sudah seharian mencari uang namun hingga malam menjelang ia belum mendapatkan uang sama sekali. Hal inilah yg akan  menjadi penyebab terjadinya kondisi pada part III.
            Part III adalah akhir cerita dari rangkaian puisi MBR ini. Dalam bagian ini tergambar sang anak masih setia meminta2 receh di jalanan hingga malam hari walaupun kondisi fisik nya tidak lagi memungkinkan dia untuk bekerja. Pada puisi ke tiga ini aku menggambarkan receh sebagai bintang. Alasannya adalah dalam situasi sudah malam, fisik yg teramat lemah dan nyaris tidak ada harapan, receh seperti bintang yg sulit sekali bahkan mustahil untuk di raih namun sangatlah berharga bagi anak-anak jalanan itu.
            Pada akhir puisi ini aku mengakhiri cerita dari Mereka Butuh Receh. Sang anakpun akhirnya pasrah pada keadaan karna ia tidak mungkin sanggup lagi untuk berjuang. Rasa sakit yg ia rasakan dan lapar yg mendera di perutnya membuat ia tak mampu bertahan hidup. Bersama rintik hujan yg turun anak itu akhirnya meninggal.
            Itulah serangkaian cerita tentang anak jalanan yg mati karna kelaparan. Mungkin ini hanya salah satu dari banyak carita diluar sana tentang anak jalanan yg menderita demi hanya untuk mencari receh-receh. Dalam puii inilah aku mencoba member tahu kepada pembaca bahwa yg mereka butuhkan adalah benda yg selama ini kita anggap sepela tapi bagi mereka dalah “bintang” untuk mereka dapat menyambung hidup.            

Rabu, 06 Maret 2013

Daun kering dan emas tersimpan



Aku agak lupa apa sebelumnya aku pernah menuliskan tentang ini. Tapi yg jelas saat ini aku ingin berbagi kepada kalian semua tentang sebuah pelajaran kehidupan yg kudapat dari alam. Pastinya kita semua sudah tahu apa itu daun kering dan apa itu emas. Daun kering yg sudah tidak berguna lagi, kering dan sudah terpisah dari pohonnya. Emas, logam mulia yg sangat berharga semua orang mengingininya bahkan harganya pun tidak murah. Kali ini mari kita belajar dari kedua benda tersebut.
Menjadi daun yg kering lebih baik daripada menjad emas yg tersimpan. Daun yg kering memang dianggap sepele tapi lihatlah ia ketika sudah terjatuh ke tanah membusuk dan akhirnya menjadikan tanah itu menjadi subur sehingga dapat ditanami kembali. Ia secara tidak langsung memberikan manfaat kepada yg lain. Sedangkan emas, ia memang lebih bernilai dibandingkan dengan daun kering. Namun apa gunanya ketika emas itu hanya disimpan? Tidak ada gunanya kan, kalaupun dipakai hanya dapat menghias sipemakainya saja tapi untuk orang lain belum tentu memberikan manfaat.
Sama seperti mereka berusahalah menjadi daun yg kering. Artinya adalah sekalipun kita adalah orang yg dianggap sepela dan tidak berguna, atau merasa tidak memiliki talenta, tapi mau memberikan diri untuk “membusuk” seperti daun sehingga dapat menjadi berkat untuk orang lain. “membusuk” disini berarti mau berkorban untuk belajar dan mau diajar. Kita semua memiliki talenta. Sekecil apapun talenta yg kita miliki pergunakanlah itu untuk kemuliaan Tuhan dan memberikan manfaat bagi sesama.
Jangan sampai kita menjadi emas yg tersimpan, memang berharga tapi tidak memberikan manfaat jika hanya disimpan. Artinya adalah talenta atau sesuatu yg berharga yg kita miliki jika tidak digunakan akan sia-sia saja. Pergunakanlah talenta yg sudah Tuhan anugerahkan, jgn sampai “emas” itu kita simpan terus menerus dan akhirnya sia-sia.

Nama

                Nama adalah sebuah identitas seseorang atau suatu benda. Setiap sesuatu pasti memiliki nama, apakah nama tersebut sudah ada sejak awalnya atau diberikan oleh seseorang yg menemukan atau yang memiliki. Adapula istilah yg mengatakan “apalah arti sebuah nama”. Ungkapan ini berarti suatu nama tidaklah penting tapi yg lebih penting adalah yg memiliki nama tersebut. Apapun pendapat seseorang tentang nama, itu adalah sebuah identitas yg dimiliki.
                Kali ini aku akan bercerita banyak tentang nama-nama ku. Nama-nama? Yaa, berarti ada lebih dari satu nama. Sengaja aku menulis artikel ini bukan untuk memamerkan siapa “aku” atau untuk suatu alasan “narsis” atau apalah itu. Namun aku menulisnya untuk menggambarkan “aku” dimata mereka sekelilingku karna bukan “aku” yg menamai aku tapi merekalah yg memberi nama tersebut kepada “aku”. Melalui tulisan ini aku juga bermaksud memberitahu bahwa aku mengakui semua nama yg ada pada diriku dan tidak ada satu namapun yg tidak “aku” akui. Beberapa temanku beranggapan bahwa aku tidak mengakui nama-namaku lantaran aku selalu menolak untuk dipanggil ini atau itu. Aku harap melalui tulisanku ini mereka akan mengerti alasan selama ini aku menolak dipanggil demikian, walaupun tidak semua alasan kutuliskan disini.
                Aku terlahir dengan nama “Yulita Lamtiur Saroha Saragih Turnip”. Itu lah nama yg tertera di akte lahir ku. Yulita yg diambil dari bulan lahirku yaitu bulan Juli. Lamtiur (batak) berasal dari kata lam yg berarti semakin dan tiur  yg berarti terang,  jika digabung artinya menjadi semakin terang. Kemudian Saroha (batak)berasal dari kata sa yg berarti satu dan roha yg berarti hati, ika digabung menjadi sehati. Tentu orang yg memberi ku nama Lamtiur Saroha memiliki alasan khusus mengapa nama itu diberikan kepadaku. Alasan yg aku tahu adalah sebelum aku lahir kondisi keluargaku tidak “Lamtiur Saroha” tetapi ketika aku lahir keadaan tersebut berubah menjadi baik. Oleh karena itu aku diberikan nama tersebut berharap aku akan terus membawa keadaan yg “Lamtiur Saroha”. (aminnnnnn)*walau sedikit geer.. hahaha. Selanjutnya namaku adalah Saragih Turnip. Untuk nama yg satu ini aku tidak akan panjang lebar menjelaaskan artinya, karna artinya dalah marga dalam suku batak.
                Seiring berjalannya waktu aku pun mendapat nama-nama panggilan dari orang-orang. Selanjutnya adalah nama-nama panggilan ku yg diberikan oleh orang-orang sekelilingku, baik itu teman, saudara, tetangga, dll. Ada banyak nama panggilan yang aku miliki namun aku akan menjelaskan satu persatu asal mula nama tersebut, siapa yg memberikan nama tersebut dan arti namanya.
                “aku”  sejak kecil sudah dipanggil “juli” oleh keluargaku. Itu adalah panggilan yg mudah bagi lidah mereka karna akan lebih sulit untuk memanggil “yuli”.  Waktu kecil juga aku memiliki nama “ade i” nama itu aku miliki karna ketiga kk dan abang ku mereka memiliki nama yg berakhiran “i” sedangkan aku tidak, namun mereka mempunyai panggilan yg hanya satu huruf seperti “kk E”, “kk A” dan “aku” ade I. Selain itu waktu SMP “aku” juga memiliki nama “Tomat”. Nama ini diberikan oleh temanku, ia menamai “aku” tomat lantaran bentuk muka ku yg seperti tomat (bulet). Karna tidak terima dinamai “tomat” lalu kunamai saja dia “Cabe” kebetulan tubuhnya tinggi dan kurus seperti cabe kriting. Hahahaha... teman-teman di kelas suka mengejek kita dengan kata “sambel”. Dari semua nama yg “aku” miliki sebenernya nama itu yg paling berkesan bagiku... J
                Selain “tomat” aku juga punya nama “ta-ta”. nama itu sebenernya tidak ditujukan kepadaku tapi aku dan temanku menujukannya kepaa orang lain. Nama itu mempunyai kisah tersendiri bagiku yg jika kuceritakan disini tidak akan muat. Hahaha... J singkat cerita nama itu adalah “umpatan” agar orang tidak mengenal siapa yg kita bicarakan (ketika itu ada masalah yg tdak bisa aku ceritakan). Lama kelamaan “aku” sadar bahwa bukan Cuma “dia” yg memiliki akhiran “TA” dalam namanya, ada 5 orang. Dan kami pun menamai diri kami “ five-TA” yg terdiri dari filanta, ranita, yunita, novita, dan yg pasti “aku” yulita (“dia” yg aku maksud pastinya ada diantara kelima nama2 tersebut). Sejak saat itulah aku memiliki nama “ta-ta”. Karena masalah diataslah yg membuatku selalu menolak untuk dipanggil “yulita” dan hanya orang-orang tertentu dalam hidupku yg bisa memanggil ku dengan panggilan “ta-ta” atau “yulita”.
                Itu ketika aku SMP lalu aku masuk SMA dan memiliki nama “rosalinda”.. :-D ... eiitss tunggu jangan langsung mengernyitkan dahi gitu tanda tidak cocok ... :-p
Nama itu diberikan oleh teman SMAku, lantaran ketika dia menanyaka namaku “aku” menolak untuk memberitahu nama asli ku (maksudnya sihh becanda bkn sombong). Kemudian entah siapa dan darimana ada yg berteriak “rosalindaaaa” . Karna agak bete nanya nama tapi gk dikasih tau yaudah dinamailah “aku” Rosalinda oleh dia. *miripp dikit kannn.... hahahah :-D... Selain Rosalinda “aku” dinamai “mbak yul” oleh temen-temen paskib SMA. Bahkan sampai saat ini mereka masih memanggilku dengan “mbak yul”
Nama lain yg aku miliki adalah “Juwita” yg diberikan oleh tetangga ku sewaktu aku masih kecil. “ita” diberikan oleh tetangga ku yg lain. “julita” yg menamainya adalah teman abangku, kemudian “lita” aku lupa siapa orang yg telah menamai itu. “aku” tidak tahu alasan mereka menamai ku sperti itu mungkin mereka tidak bisa bicara “yulita” dengan normal. Hahahah,,, Ada lagi “tu-ti” kepanjangan dari “tukang tidur”. Dari artinya saja pasti sudah tahu alasannya. :-D
Berikut adalah nama-nama panggilan yg aku miliki lamtiur, tiur, saroha, turnip. Mereka mengambil nama belakangku. Ohhh yaa hampir terlupakan, ada satu nama lagi yg menurutku perlu ditulis yaitu “ribka”. Ribka adalah nama baptisku. Jika digabung dengan nama lahirku menjadi “ribka yulita lamtiur saroha saragih turnip”. Cukup panjang juga ya namanya, sepanjang itulah perjalanan nama ku.
Nama apapun yg ingin kalian berikan kepadaku “aku” tidak akan menolak. Karna nama itulah yg menggambarkan “aku” dipikiran kalian. DAN Siapapun nama “aku” baik itu yulita, tiur, lita, ita, juwita, julita, ta-ta, ribka, tomat, rosalinda, ade i, tu-ti, juli, dll PLEASE CALL ME “YULI” without “TA”
That’s it. Enough.

Cerita Kita di Batu, Malang, dan Bromo

Di blog gw kali ini, gw ingin cerita tentang perjalanan gw dan temen-temen ke Malang. Sebenernya banyak tempat wisata lain yang udah pernah ...