“Merek Butuh Receh” adalah
puisi yg dibuat sekitar tahun 2010 dan selesai pada tahun 2012. Puisi ini bercerita
tentang anak-anak jalanan yg mengamen di bis-bis kota dan di jalanan. Aku
memilih judul ini untuk menggambarkan bahwa yg mereka butuhkan adalah hal yg
sangat sederhana dan kecil yg mungkin selama ini kita anggap sepele dan
bukanlah hal yg mewah. Namun, bagi mereka (anak-anak jalanan) receh yg
orang-orang berikan sangatlah berharga untuk mereka dapat melangsungkan hidup
di hari esok.
Puisi ini dibagi dalam tiga bagian, “Mereka Butuh Receh”
part I, II, III. Ketiga part tersebut merupakan satu kesatuan cerita yang
setiap part memiliki kisahnya tersendiri. Setiap kisah di dalam puisi tersebut
bercerita tentang anak-anak jalanan yg berusaha untuk mempertahankan hidupnya
melalui receh-receh yg mereka cari. Aku memilih untuk menggunakan objek
anak-anak sebagai tokoh didalam puisi karena terinspirasi oleh banyak anak-anak
yg mengadu nasib mereka dijalanan. Pemandangan tersebut sering sekali aku lihat
ketika akan berangkat maupun pulang sekolah. Karena fenomena itulah aku tertarik
untuk mengangkat kehidupan mereka ke dalam puisi ini.
Mereka butuh receh part
I dikerjakan sekitar tahun 2010 dimana aku menghabiskan waktu sekitar 1 bulan
untuk dapat menyelesaikan puisi part 1 ini. Dalam puisi ini aku mencoba
memperkenalkan tentang gambaran tokoh, tempat, dan kejadian yg terdapat di
puisi ini. Sebagai contoh “Anak kecil berlari melawan roda2 bis kota”
menggambarkan kehidupan anak2 jalanan yg mengejar bis kota dengan sekuat tenaga
untuk dapat mengamen dan mendapatkan receh-receh dari penumpang yg ada. Dalam
part ini pula aku mendeskripsikan keadaan anak2 itu yg tetap berjuang apapun yg
terjadi baik itu hujan maupun panas dan hal ini lah yg melahirkan kondisi
anak-anak jalanan dalam part II.
Part II, Mereka
butuh receh part II adalah kelanjutan cerita dari part I. Dalam bagian ini aku
menggambarkan kondisi anak-anak jalanan tersebut yg bertambah parah baik dari
kondisi fisik maupun psikis mereka. Kondisi yg terjadi di dalam part satu -
kehujanan, kepanasan, tidak mendapatkan receh, dll- menyebabkan kondisi fisik
mereka menurun yg tergambar melalui kata-kata “… kulit telapak yg terbakar parah… ; lapar
yg menderu di dalam perutnya ; matanya
yg sayu”. Di puisi MBR part II
juga tergambar adanya kelas sosial yg berbeda antara orang yg kaya yg di
representasikan melalui ungkapan Iambang
kemewahan yg berhenti dan kaca-kaca
jendela, dan orang miskin yg di representasikan melalui kata-kata sampah masyarakat dan gembel. Dalam hal ini aku memakai kata lambang kemewahan yg berhenti dan kaca2 yg terbuka untuk mengungkapkan yg
dimaksud adalah mobil-mobil mewah.
Part
II juga menjadi inti dari keseluruhan puisi Mereka Butuh Receh ini karna dalam
part II ini tergambar si anak yg sudah seharian mencari uang namun hingga malam
menjelang ia belum mendapatkan uang sama sekali. Hal inilah yg akan menjadi penyebab terjadinya kondisi pada part
III.
Part
III adalah akhir cerita dari rangkaian puisi MBR ini. Dalam bagian ini
tergambar sang anak masih setia meminta2 receh di jalanan hingga malam hari
walaupun kondisi fisik nya tidak lagi memungkinkan dia untuk bekerja. Pada
puisi ke tiga ini aku menggambarkan receh sebagai bintang. Alasannya adalah
dalam situasi sudah malam, fisik yg teramat lemah dan nyaris tidak ada harapan,
receh seperti bintang yg sulit sekali bahkan mustahil untuk di raih namun
sangatlah berharga bagi anak-anak jalanan itu.
Pada
akhir puisi ini aku mengakhiri cerita dari Mereka Butuh Receh. Sang anakpun
akhirnya pasrah pada keadaan karna ia tidak mungkin sanggup lagi untuk
berjuang. Rasa sakit yg ia rasakan dan lapar yg mendera di perutnya membuat ia
tak mampu bertahan hidup. Bersama rintik hujan yg turun anak itu akhirnya
meninggal.
Itulah
serangkaian cerita tentang anak jalanan yg mati karna kelaparan. Mungkin ini
hanya salah satu dari banyak carita diluar sana tentang anak jalanan yg
menderita demi hanya untuk mencari receh-receh. Dalam puii inilah aku mencoba
member tahu kepada pembaca bahwa yg mereka butuhkan adalah benda yg selama ini
kita anggap sepela tapi bagi mereka dalah “bintang” untuk mereka dapat menyambung
hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar