Kamis, 28 Maret 2013

DI BALIK PUISI “MEREKA BUTUH RECEH”


“Merek Butuh Receh” adalah puisi yg dibuat sekitar tahun 2010 dan selesai pada tahun 2012. Puisi ini bercerita tentang anak-anak jalanan yg mengamen di bis-bis kota dan di jalanan. Aku memilih judul ini untuk menggambarkan bahwa yg mereka butuhkan adalah hal yg sangat sederhana dan kecil yg mungkin selama ini kita anggap sepele dan bukanlah hal yg mewah. Namun, bagi mereka (anak-anak jalanan) receh yg orang-orang berikan sangatlah berharga untuk mereka dapat melangsungkan hidup di hari esok.
            Puisi ini dibagi dalam tiga bagian, “Mereka Butuh Receh” part I, II, III. Ketiga part tersebut merupakan satu kesatuan cerita yang setiap part memiliki kisahnya tersendiri. Setiap kisah di dalam puisi tersebut bercerita tentang anak-anak jalanan yg berusaha untuk mempertahankan hidupnya melalui receh-receh yg mereka cari. Aku memilih untuk menggunakan objek anak-anak sebagai tokoh didalam puisi karena terinspirasi oleh banyak anak-anak yg mengadu nasib mereka dijalanan. Pemandangan tersebut sering sekali aku lihat ketika akan berangkat maupun pulang sekolah. Karena fenomena itulah aku tertarik untuk mengangkat kehidupan mereka ke dalam puisi ini.
            Mereka butuh receh part I dikerjakan sekitar tahun 2010 dimana aku menghabiskan waktu sekitar 1 bulan untuk dapat menyelesaikan puisi part 1 ini. Dalam puisi ini aku mencoba memperkenalkan tentang gambaran tokoh, tempat, dan kejadian yg terdapat di puisi ini. Sebagai contoh “Anak kecil berlari melawan roda2 bis kota” menggambarkan kehidupan anak2 jalanan yg mengejar bis kota dengan sekuat tenaga untuk dapat mengamen dan mendapatkan receh-receh dari penumpang yg ada. Dalam part ini pula aku mendeskripsikan keadaan anak2 itu yg tetap berjuang apapun yg terjadi baik itu hujan maupun panas dan hal ini lah yg melahirkan kondisi anak-anak jalanan dalam part II.
            Part II, Mereka butuh receh part II adalah kelanjutan cerita dari part I. Dalam bagian ini aku menggambarkan kondisi anak-anak jalanan tersebut yg bertambah parah baik dari kondisi fisik maupun psikis mereka. Kondisi yg terjadi di dalam part satu - kehujanan, kepanasan, tidak mendapatkan receh, dll- menyebabkan kondisi fisik mereka menurun yg tergambar melalui kata-kata “… kulit telapak yg terbakar parah… ; lapar yg menderu di dalam perutnya ; matanya yg sayu”. Di puisi MBR part II juga tergambar adanya kelas sosial yg berbeda antara orang yg kaya yg di representasikan melalui ungkapan Iambang kemewahan yg berhenti dan kaca-kaca jendela, dan orang miskin yg di representasikan melalui kata-kata sampah masyarakat dan gembel. Dalam hal ini aku memakai kata lambang kemewahan yg berhenti dan kaca2 yg terbuka untuk mengungkapkan yg dimaksud adalah mobil-mobil mewah.
            Part II juga menjadi inti dari keseluruhan puisi Mereka Butuh Receh ini karna dalam part II ini tergambar si anak yg sudah seharian mencari uang namun hingga malam menjelang ia belum mendapatkan uang sama sekali. Hal inilah yg akan  menjadi penyebab terjadinya kondisi pada part III.
            Part III adalah akhir cerita dari rangkaian puisi MBR ini. Dalam bagian ini tergambar sang anak masih setia meminta2 receh di jalanan hingga malam hari walaupun kondisi fisik nya tidak lagi memungkinkan dia untuk bekerja. Pada puisi ke tiga ini aku menggambarkan receh sebagai bintang. Alasannya adalah dalam situasi sudah malam, fisik yg teramat lemah dan nyaris tidak ada harapan, receh seperti bintang yg sulit sekali bahkan mustahil untuk di raih namun sangatlah berharga bagi anak-anak jalanan itu.
            Pada akhir puisi ini aku mengakhiri cerita dari Mereka Butuh Receh. Sang anakpun akhirnya pasrah pada keadaan karna ia tidak mungkin sanggup lagi untuk berjuang. Rasa sakit yg ia rasakan dan lapar yg mendera di perutnya membuat ia tak mampu bertahan hidup. Bersama rintik hujan yg turun anak itu akhirnya meninggal.
            Itulah serangkaian cerita tentang anak jalanan yg mati karna kelaparan. Mungkin ini hanya salah satu dari banyak carita diluar sana tentang anak jalanan yg menderita demi hanya untuk mencari receh-receh. Dalam puii inilah aku mencoba member tahu kepada pembaca bahwa yg mereka butuhkan adalah benda yg selama ini kita anggap sepela tapi bagi mereka dalah “bintang” untuk mereka dapat menyambung hidup.            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Kita di Batu, Malang, dan Bromo

Di blog gw kali ini, gw ingin cerita tentang perjalanan gw dan temen-temen ke Malang. Sebenernya banyak tempat wisata lain yang udah pernah ...