Rabu, 26 Juni 2013

Emosi


Suatu hari seorang ayah pulang ke rumahnya dengan membawa mobil yang baru. Mobil itu diperolehnya dengan membeli dari hasil kerja kerasnya selama ini. Ia sangat bahagia ketika tiba di rumah dengan mobil baru dan memarkir mobil itu di depan rumahnya.
Ayah ini memiliki seorang anak kecil sekitar 2 tahun. Anak ini pun begitu senang dengan mobil baru sang ayah, layaknya seorang anak kecil yg mendapatkan mainan baru. Ia pun mengambil besi sekitar 20 cm yg terletak di garasi mobil lalu memukul-mukul pintu mobil dengan kegembiraan anak kecil sambil berkata
“Mobil baru... mobil baru... mobil baru.. mobil baru...” begitu seterusnya. Hingga akhirnya sang ayah mendengar suara berisik dan melihat anak kecilnya tengah memukul-mukul pintu mobilnya. Sang ayah pun menjadi naik darah, ia begitu emosi melihat anaknya dan sangat marah begitu rupa sehingga tangan anaknya itu dipikuli nya dengan kayu berkali-kali. Sang anakpun merintih dan menangais kepada sang ayah sambil berkata “Ampun ayah... ayah ampuuuunnn... maaaaaf yahhh...”
Namun sang ayah tidak menghiraukan rintihan sang anak kecil itu. Saking emosinya, ia pun terus memukuli jari-jari si kecil yg tak mengerti apa-apa. Masih sambil menangis sang anak terus merintih “ ayah sakitttttt.... ampun ayahhhhh...”
Emosi sang ayah terhadap anaknya itu menyebabkan jemari sanga anak membengkak begitu besar. Hari pertama jemari mungil itu masih membengkak.
Hari keduapun demikian belum ada perubahan
Hari ketiga jemari sang anak semakin bengkak dan merah.
Keesokan harinya dibawanyalah anak kecilnya itu ke rumah sakit untuk diperiksa oleh dokter.
“Pak, dengan terpaksa saya katakan bahwa seluruh jemari anak bapak harus di amputasi karna jika tidak akan berakibat pada tulang-tulang tangannya. Tidak ada jalan lain selain di amputasi”
Dengan hati yg sangat sedih terpaksa sang ayah harus merelakan jemari mungil sang anak diamputasi. Ia pun merasakan penyesalan yg teramat sangat karna emosi sesaatnya telah menyebabkan jemari mungil anak satu-satunya itu tidak ada. Selesai diamputasi sambil menangis sang ayah berkata pada si kecil nan malang
“Maafkan ayah nak, semua salah ayah..” dan dengan senyum kecil sang anak berkata “ ayah gk salah ko, yang salah itu pak dokter. Kan ayah Cuma mukul jari-jari aku tapi pak dokter yg udah potong jari-jari aku”
Hati sang ayahpun bertambah sedih mendengar perkataan anak kecilnyanya itu.

moral value;
apa yg bisa kita pelajari dari kisah di atas adalah emosi sesaat atau emosi yg melampaui batas dapat berakibat fatal untuk orang lain. Oleh karena itu mari kita belajar untuk mengendalikan emosi kita.

Rabu, 12 Juni 2013

Dimanakah Esok Akan Datang?


 Dalam hitam kelam malam
Hanya ada setitik cahaya
Larutkan jiwa dalam nelangsa
Mengejar asa yang tak pernah padam

Terbuai oleh hembusan angin
Melelapkan lautan bimbang
Tegak menuju satu impian batin
Seperti duri menancap dalam tulang

Hanya dingin yg datang menemani
Lewati kulit-kulit hingga mengkerut
Sejuta harapan datang dan pergi
Coba bertanya pada malam yg larut

Dimanakah esok akan datang?

Cerita Kita di Batu, Malang, dan Bromo

Di blog gw kali ini, gw ingin cerita tentang perjalanan gw dan temen-temen ke Malang. Sebenernya banyak tempat wisata lain yang udah pernah ...