Suatu hari
seorang ayah pulang ke rumahnya dengan membawa mobil yang baru. Mobil itu
diperolehnya dengan membeli dari hasil kerja kerasnya selama ini. Ia sangat
bahagia ketika tiba di rumah dengan mobil baru dan memarkir mobil itu di depan
rumahnya.
Ayah ini memiliki
seorang anak kecil sekitar 2 tahun. Anak ini pun begitu senang dengan mobil
baru sang ayah, layaknya seorang anak kecil yg mendapatkan mainan baru. Ia pun
mengambil besi sekitar 20 cm yg terletak di garasi mobil lalu memukul-mukul
pintu mobil dengan kegembiraan anak kecil sambil berkata
“Mobil baru...
mobil baru... mobil baru.. mobil baru...” begitu seterusnya. Hingga akhirnya
sang ayah mendengar suara berisik dan melihat anak kecilnya tengah memukul-mukul
pintu mobilnya. Sang ayah pun menjadi naik darah, ia begitu emosi melihat
anaknya dan sangat marah begitu rupa sehingga tangan anaknya itu dipikuli nya
dengan kayu berkali-kali. Sang anakpun merintih dan menangais kepada sang ayah
sambil berkata “Ampun ayah... ayah ampuuuunnn... maaaaaf yahhh...”
Namun sang ayah
tidak menghiraukan rintihan sang anak kecil itu. Saking emosinya, ia pun terus
memukuli jari-jari si kecil yg tak mengerti apa-apa. Masih sambil menangis sang
anak terus merintih “ ayah sakitttttt.... ampun ayahhhhh...”
Emosi sang ayah
terhadap anaknya itu menyebabkan jemari sanga anak membengkak begitu besar.
Hari pertama jemari mungil itu masih membengkak.
Hari keduapun
demikian belum ada perubahan
Hari ketiga
jemari sang anak semakin bengkak dan merah.
Keesokan harinya
dibawanyalah anak kecilnya itu ke rumah sakit untuk diperiksa oleh dokter.
“Pak, dengan
terpaksa saya katakan bahwa seluruh jemari anak bapak harus di amputasi karna
jika tidak akan berakibat pada tulang-tulang tangannya. Tidak ada jalan lain
selain di amputasi”
Dengan hati yg
sangat sedih terpaksa sang ayah harus merelakan jemari mungil sang anak
diamputasi. Ia pun merasakan penyesalan yg teramat sangat karna emosi sesaatnya
telah menyebabkan jemari mungil anak satu-satunya itu tidak ada. Selesai
diamputasi sambil menangis sang ayah berkata pada si kecil nan malang
“Maafkan ayah
nak, semua salah ayah..” dan dengan senyum kecil sang anak berkata “ ayah gk
salah ko, yang salah itu pak dokter. Kan ayah Cuma mukul jari-jari aku tapi pak
dokter yg udah potong jari-jari aku”
Hati sang ayahpun
bertambah sedih mendengar perkataan anak kecilnyanya itu.
moral value;
apa yg bisa kita
pelajari dari kisah di atas adalah emosi sesaat atau emosi yg melampaui batas
dapat berakibat fatal untuk orang lain. Oleh karena itu mari kita belajar untuk
mengendalikan emosi kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar