Minggu, 13 April 2014

Slit eyes


Seulas senyum terpancar dari wajah manisnya, kali ini sungguh menawan sang dewa fajar. Bagi siapapun yg melihatnya pasti tak terelakkan lg keindahannya. Membuat setiap jiwa-jiwa mengakui keelokan senyum itu. Seolah waktu tak dapat diajak untuk bekerja sama, ia terus berlalu menyeretnya pergi. Dimanakah sang dewa waktu itu berada agar ku jumpai karna ku ingin saat ini waktu berhenti sejenak tuk memandang senyumnya.  (05-02)
Kali ini ia ada di depanku. Dan kata-demi kata mulai terucap dari bibir manisnya. Tatapan matanya yg menusuk jantung, memacu berdetak tak henti. Seakan ingin terus bersua, ucap sia-siapun hadir terus menerus. Namun, sungguh dingin. Nyaris membeku. Api pun tak sanggup kunyalakan tuh hilangkan dingin ini. Akkkhh... sudahlah barkan seperti ini dulu. (06-02)
Berlalu dan terus berlalu. Dan kini kusadari ternyata kita berbeda. Perbedaan itu yg akan  membuat kita sulit untuk bersatu walaupun tak mengapa. Mungkin ini karna prinsipku yg terlalu keras. Atau mungkin karna kriteriaku yg terlalu tinggi. Atau... karna keinginanku yg terlalu besar. Akkhh aku tak tahu. Menyadari kenyataan ini sungguh ku tak ingin ini terjadi. Ku tak ingin ada perbadaan ini diantara kita. Apa yg harus ku lakukan sekarang? (07-02)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Kita di Batu, Malang, dan Bromo

Di blog gw kali ini, gw ingin cerita tentang perjalanan gw dan temen-temen ke Malang. Sebenernya banyak tempat wisata lain yang udah pernah ...