Seulas senyum terpancar
dari wajah manisnya, kali ini sungguh menawan sang dewa fajar. Bagi siapapun yg
melihatnya pasti tak terelakkan lg keindahannya. Membuat setiap jiwa-jiwa
mengakui keelokan senyum itu. Seolah waktu tak dapat diajak untuk bekerja sama,
ia terus berlalu menyeretnya pergi. Dimanakah sang dewa waktu itu berada agar
ku jumpai karna ku ingin saat ini waktu berhenti sejenak tuk memandang
senyumnya. (05-02)
Kali ini ia ada di depanku.
Dan kata-demi kata mulai terucap dari bibir manisnya. Tatapan matanya yg
menusuk jantung, memacu berdetak tak henti. Seakan ingin terus bersua, ucap sia-siapun
hadir terus menerus. Namun, sungguh dingin. Nyaris membeku. Api pun tak sanggup
kunyalakan tuh hilangkan dingin ini. Akkkhh... sudahlah barkan seperti ini
dulu. (06-02)
Berlalu dan terus
berlalu. Dan kini kusadari ternyata kita berbeda. Perbedaan itu yg akan membuat kita sulit untuk bersatu walaupun tak
mengapa. Mungkin ini karna prinsipku yg terlalu keras. Atau mungkin karna
kriteriaku yg terlalu tinggi. Atau... karna keinginanku yg terlalu besar. Akkhh
aku tak tahu. Menyadari kenyataan ini sungguh ku tak ingin ini terjadi. Ku tak
ingin ada perbadaan ini diantara kita. Apa yg harus ku lakukan sekarang?
(07-02)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar