Senin, 05 Desember 2011

Masa-Masa 1

Sobat, dalam tulisanku kali ini aku akan menulis masa-masa dalam hidupku, mulai dari aku lahir hingga masa sekarang. Dan sekarang aku ingin memulai untuk menulis tentang masa kecilku...
Masa kecil...
Aku tidak begitu banyak ingat tentang masa kecilku, maklumlah waktu itu aku masih kecil dan ingatanku pun masih lemah. Namun masih ada beberapa hal yg masih tinggal di dalam ingatanku dan beberapa lagi ku tahu dari cerita keluargaku tentang masa kecilku.
Masa kecil, yg menurutku terlalu singkat untukku lalui dan sekarang, terkadang aku pernah merasa ingin kembali ke masa itu. Kawan, aku adalah anak ke empat dari empat bersaudara, jadi aku adalah anak terakhir atau dlm bahasa kerennya anak bontot. Seharusnya aku adalah anak ke-lima, terus kenapa aku bisa jadi anak ke empat, adalah karna sebelum mamaku mengandung aku, beliau sudah pernah keguguran pada usia kandungannya yg menjelang 7 bulan. Karna kejadian tersebut, orangtuaku memutuskan untuk tidak mempunyai anak lagi. Mereka berfikir tiga anak sudah cukup, apalagi sudah ada anak laki-laki yg dalam orang batak keberadaannya bisa dibilang penting untuk meneruskan marga. Lalu aku? yaa, bisa dikatakan aku tidak diharapkan. Makanya jarak antara aku dan abangku (anak ke-3) terpaut jauh sekali, kurang lebih sekitar 10- tahun jarak kami.
Menurut cerita dari keluargaku, aku bisa lahir ke dunia adalah karna permohonan opung (nenek/kakek)ku. Suatu saat opungku datang ke Jakarta, beliau menyuruh orang tuaku untuk mempunyai anak lagi. Alasannya adalah kalau yg jadi anak bontot adalah anak laki-laki, nanti ia akan sangat manja luarbiasa dan bandel. Itu sih pemikiran orang tua jaman dulu, kalo menurutku itu semua tergantung dari cara si orangtua mendidik. Ooh ya kawan, satu alasan lagi kenapa opungku menyuruh orangtuaku untuk punya anak adalah siapa tahu aku terlahir sebagai laki-laki, jadi kami bisa sepasang, sepasang perempuan dan sepasang laki-laki.
Singkat cerita, pada tanggal 22 Juli 1992, lahirlah aku, seorang bayi berkelamin perempuan. Waaw, ternyata aku bukan laki-laki seperti yg diharapkan ortuku. Aku pernah diceritakan oleh mamaku bahwa pada saat beliau akan melahirkanku, ia mengalami pendarahan yg luar biasa ditambah lg saat itu mamaku sudah mempunyai penyakit darah tinggi. Sudah lahir bukan laki-laki ditambah lagi pendarahan, sulit kubayangkan hal itu. Mamaku lantas sempat kecewa sekali karna yg lahir tidak sesuai harapannya. Kemudian ada seorang saudara yg kupanggil nanguda (adik ibu), dia bukan nanguda kandungku tapi karna marga ortuku sama jadi keluarga kami cukup dekat dan seperti keluarga kandung. Mamaku bercerita bahwa ia berniat ingin mengadopsiku sebagai anaknya jika mamaku tidak mau merawatku. Akhirnya setelah beberapa lama di bidan di putuskan bahwa mamaku mau menerimaku sebagai anaknya.
So, jadinya aku mempunyai dua orang ibu deh. sewaktu kecil kakakku sering meledekku bukan anak kandung, menyuruhku pergi ke mama "tengki" (tempat tinggal nanguda di tengki), kalau hal itu terjadi aku langsung nangis dan mamaku langsung berkata "gak kok,nang. kau anak mama ko, boru (batak, gadis)."
Itulah tadi awal aku bisa terlahir ke dunia, sebulan sebelum aku lahir opungku telah dipanggil Tuhan. Jadi saat aku lahir aku tidak mengenal opungku.
Masa-masa kecilku tidak jauh berbeda dengan anak-anak yg lain pada umumnya. Bermain bersama teman-teman di sekitar rumahku, bercanda, berantem, menangis, dll. Permainan yg kami mainkan pun macam-macam seperti bermain ibu-ibuan, petak-umpet, masak-masakan, dll. Semua kulakukan jika kakak2ku sudah berangkat sekolah dan tinggal aku dan mamaku di rumah. Jika sudah begitu aku langsung pergi ke rumah temanku, Gita namanya. Kita sering bermain bersama dirumahnya. Aku masih ingat saat itu kami main ibu2an dengan memakai boneka. Gita yg menjadi ibu dan aku yg menjadi anak, ada seorang anak laki-laki tapi ku sudah lupa siapa namanya, dia menjadi ayahnya. Drama yg kami mainkan pun sederhana, hanya seorang ibu yg pergi ke pasar dan ayah yg pergi bekerja kemudian aku yg menunggu di rumah sambil bermain boneka. Setelah sang ibu pulang, ia memasak untuk anak dan suaminya. Begitu seterusnya.
Pada sore hari, nah ini yg paling aku suka. Aku dan teman2ku bermain di gundukan pasir yg padat dan tinggi juga di tumpukan batu2 koral. Aku sangat bahagia jika sudah bermain disana, beramai-ramai kami bermain "lorong waktu", itu adalah sebuah program televisi yg saat itu banyak disukai anak2, tayang di indosiar. Dalam permainan itu kami mengelilingi gundukan pasir dan gundukan batu untuk mencari benda2 tertentu. Kami berlari di pasir, berkejar2an, tertawa, terkadang berantem. Pokoknya kami sangat bahagia waktu itu. Ada satu lagi permainan yg masih ku ingat, yaitu kontes nyanyi. Jangan teman2 mengira bahwa ini kontes beneran. Kami hanya berpura2, ada yg sebagai juri, peserta, dan penonton. Hadiahnya pun pura2 juga pastinya.
Kalo aku tidak punya teman pada siang hari untuk bermain, mamaku selalu menemaniku, ia hanya mengawasiku yg sedang bermain masak2an dengan pasir, tanah dan air. Sebenernya aku dilarang tapi begitulah, akhirnya diijinkan juga, hahaha...
Ada satu masa yg aku ingat saat aku di tinggal pergi oleh orangtuaku ke kampung. Aku dititipkan sama mama "tengki". Aku selalu nangis saat bersamanya, maklum saja aku masih kecil dan dia bukan mama kandungku. Kalo aku nangis beliau hanya menyogokku dengan sebungkus beng-beng. 
Akhirnya usiaku beranjak 6 tahun dan aku harus memasukio dunia baru.
Yaa, seperti itulah sobat sedikit tentang masa kecilku. Kadang ada duka. kadang suka, semua silih berganti mengisi hari-hariku. Life must go on. Tidak bisa dipungkiri aku pun harus bertumbuh dan bertambah besar. Ceritaku tentang masa sekolahku akan aku tulis dalam tulisanku berikutnya. So, untuk para fragers setia, jgn bosan menunggu tulisanku yaaa.... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Kita di Batu, Malang, dan Bromo

Di blog gw kali ini, gw ingin cerita tentang perjalanan gw dan temen-temen ke Malang. Sebenernya banyak tempat wisata lain yang udah pernah ...